JABAR EKSPRES – Jawa Barat mengalami deflasi sebesar – 0,32 persen pada Mei 2025 secara m-to-m. Itu berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, Senin (2/6).
Plt Kepala BPS Jabar Darwis Sitorus menguraikan, ada sejumlah komoditas yang menyumbang deflasi pada Mei. Yakni, cabai rawit sebesar – 0,12 persen, bawang merah -0,10 persen, cabai merah -0,07 persen, daging ayam ras -0,04 persen.
Lalu bawang putih -0,03 persen, angkutan antar kota -0,02 persen, minyak goreng -0,01 persen, kentang -0,01 persen, wortel -0,01 persen, beras -0,01 persen.
Baca Juga:Jelang Idul Adha, Prabowo Serahkan Bantuan Sapi 1,2 Ton untuk Warga CimahiPemkab Bandung Dukung Kebijakan Jam Malam Pelajar, Upaya Bentuk Karakter Anak Bangsa?
Sementara komoditas yang menyumbang inflasi di antaranya, tomat sebesar 0,04 persen, emas perhiasan 0,02 persen, tarif pulsa ponsel 0,02 persen, hingga tahu mentah di angka 0,01 persen.
Dari 10 kota kabupaten yang diamati, semuanya juga menunjukkan catatan deflasi pada Mei 2025 secara m-to-m. Dengan deflasi terdalam ada di Kota bekasi dengan -0,46 persen. Sedangkan deflasi terendah adalah Kota Tasikmalaya dengan -0,01 persen.
Catatan lain, jika dilihat secara y-on-y, kondisi ekonomi Jabar pada Mei 2025 ada di posisi inflasi sebesar 1,47 persen. Sedangkan secara year – to – date inflasi sebesar 0,98 persen.
Darwis berpendapat, deflasi ini terjadi karena kembali normalnya aktifitas masyarakat setelah sejumlah perayaan besar. Yakni momen lebaran atau Idul Fitri. “Kebanyakan deflasi ini kan kelompok makanan minuman. Ini siklus musiman saja, jadi tidak perlu terlalu khawatir,” jelasnya.
Menurut Darwis, kondisi inflasi ataupun deflasi bisa dimaknai dari berbagai aspek. Yang penting bisa terkendali di kisaran 2,5 persen. “Kalau BI itu kan ada hitungan keseimbangan plus minus 2,5 persen,” cetusnya.(son)
