Ia mengatakan sudah memaafkan insiden yang terjadi, dan mengajak para suporter untuk lebih cermat dalam menyampaikan aspirasi.
Menurutnya, soal masa depan Persikas sebaiknya dibicarakan langsung dengan manajemen klub, karena posisi Pemprov Jabar tidak memiliki wewenang langsung dalam urusan internal klub.
“Saya sudah maafkan. Tapi kalau mau sampaikan aspirasi, salurkan ke orang yang punya tanggung jawab langsung. Dalam hal ini, ya ke Manajemen Persikas, bukan ke saya sebagai Gubernur, karena secara struktural, Pemprov nggak punya peran dalam pengelolaan klub ini,” jelas Dedi dengan tenang.
Baca Juga:Lulus? Catat ini Jadwal Daftar Ulang UTBK SNBT 2025 di Sejumlah PTNVideo 7 Menit Diduga Syakirah Viral di Medsos, Bikin Netizen Penasaran
Meski demikian, ia memahami betul kecintaan para suporter terhadap tim lokal mereka.
Dedi berharap agar semua pihak, termasuk manajemen klub, bisa duduk bersama mencari solusi yang terbaik agar Persikas tetap menjadi milik masyarakat Subang.
“Semua aspirasi dari para suporter sudah saya dengar. Harapan saya juga sama, semoga ada jalan keluar yang terbaik agar Persikas tetap berada dan tumbuh di Subang,” lanjutnya.
Dedi pun menyampaikan bahwa kehadiran para suporter secara damai dan niat baik mereka menunjukkan bahwa konflik sudah bisa diredakan.
Ia berharap kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali di masa depan.
“Alhamdulillah, kita sudah saling memaafkan. Semoga ini jadi pelajaran berharga dan tidak terulang di kesempatan lain,” tutup Dedi Mulyadi.
Sebagai informasi tambahan, insiden yang menjadi awal dari semua ini terjadi saat acara Nganjang ka Rakyat berlangsung.
Baca Juga:Segini Besaran Gaji ke 13 Pensiunan PNS yang Cair Mulai Juni 2025 OJK Perkuat Peran Sektor Jasa Keuangan Dorong Ekonomi Daerah Melalui Komoditas Unggulan di Jawa Barat
Kala itu, sejumlah suporter Persikas tiba-tiba membentangkan spanduk, berteriak, dan menyanyikan yel-yel dengan nada protes.
Aksi tersebut membuat suasana memanas hingga berujung pada diamankannya 22 orang suporter oleh aparat keamanan.
Kini, dengan komunikasi yang terbuka, semua pihak berharap situasi kembali kondusif demi masa depan sepak bola Subang yang lebih baik.
