Kurangi Kesenjangan Komunikasi Akademik dan Industri Melalui Biotechnology Fair 2025

Program Studi Bioteknologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menggelar Biotechnology Fair 2025 di Auditorium Campus Center Timur ITB, Sabtu, 24 Mei 2024. 
Program Studi Bioteknologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menggelar Biotechnology Fair 2025 di Auditorium Campus Center Timur ITB, Sabtu, 24 Mei 2024. 
0 Komentar

Melalui Biotech Fair 2025, Meitha berharap riset antara industri dan akademia di Indonesia dapat semakin terhubung dan sinergis. “Dukungan dari berbagai pihak dibutuhkan untuk mendorong perkembangan bioteknologi di tanah air. Dengan semakin banyaknya kolaborasi dan perhatian terhadap bidang ini, bioteknologi di Indonesia diharapkan dapat berkembang pesat dan memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat,” paparnya.

Dalam sesi bertajuk “Mythbusters: R&D in Health Industry”, Khrisna Putera dari Vaksindo membongkar berbagai mitos yang sering muncul dalam dunia riset dan pengembangan industri kesehatan. Ia menyoroti bagaimana proses R&D di industri farmasi dan vaksin membutuhkan pendekatan saintifik yang ketat, kolaborasi multidisipliner, serta pemahaman akan regulasi yang dinamis.

Sementara Paul Connelly dan Rizki Awaludin dari Verdant memaparkan, potensi besar penggunaan data genomik dalam pengembangan tanaman kelapa sawit melalui topik “Genomics Beyond the Field”. Ia menjelaskan bagaimana analisis variasi genomik memungkinkan pemuliaan tanaman yang lebih presisi, efisien, dan adaptif terhadap perubahan iklim maupun permintaan industri.

Baca Juga:Jadi Penggerak Ekonomi Nasional, Pemerintah Dorong UMKM Ekosistem MBG Dilindungi BPJS KetenagakerjaanSukses Lakukan Tranformasi Pendidikan, USB YPKP Bandung Raih Akreditasi Unggul

Dalam sesi “BioInnovation in Action”, Christian Karol Saputra dari Etana membagikan pengalaman membangun inovasi nyata di industri bioteknologi. Dia menekankan pentingnya sinergi antara inovasi laboratorium dan penerapan industri, mulai dari formulasi produk hingga scale-up produksi.

Indra Rudiansyah, peneliti vaksin dari Biofarma, mengangkat tema “Navigating the Biotech Industry: Science Meet Soft Skills”. Ia menyoroti pentingnya soft skills seperti komunikasi ilmiah, kerja tim, dan adaptabilitas dalam menghadapi tantangan dunia kerja bioteknologi yang cepat berubah.

Sesi penutup diisi oleh Asep Haekal dari Grab dengan topik “Build Your Career with Purpose”. Ia membahas bagaimana strategi komunikasi, kepemimpinan, dan visi personal memainkan peran penting dalam membangun karier yang berdampak. (bbs)

0 Komentar