Vena menjelaskan, aksi penjarahan lahan tersebut sering terjadi pada malam hari. Akibatnya, saat pagi hari warga datang untuk memetik teh, mereka mendapati kondisi lahan yang telah gundul dan berubah fungsi menjadi kebun sayur.
“Ketika subuh tiba-tiba sudah hancur saja. Ketika dibenerin lagi, ada lagi ada yang rusak di area lain,” jelasnya.
Saat aksi yang dilakukan para petani Senin (21/4) kemarin, kata Vena, sebetulnya Forkopimcam dan PTPN sedang berupaya melakukan penanaman kembali di area yang gundul.
Baca Juga:Warung Bunda Masih Jadi Sorotan, Pemkot Cimahi Siapkan Strategi KhususDedie Rachim Bakal Lakukan Rotasi Pejabat Pemkot Bogor: Kebut Program Prioritas Daerah
Ia juga menuturkan bahwa saat aksi para petani pada Senin (21/4), Forkopimcam bersama PTPN sedang melakukan penanaman kembali di area gundul. Namun, tiba-tiba sekitar 400 petani datang dan meluapkan emosinya di area yang sudah dijadikan kebun sayur.
“Kemarin tuh ada 400 orang yang hadir dari serikat petani perkebunan teh. Pasti ada aja orang yang marah dan meluapkan emosinya. Tapi aksi amarah warga enggak berlangsung lama dan kembali kondusif. Kemudian warga dan para petani teh langsung kembali ke rumahnya masing-masing,” terangnya.
Vena menambahkan, dugaan keterlibatan oknum dalam alih fungsi lahan saat ini sedang dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian dan PTPN.
“Jadi memang ya ada orang-orang mungkin yang memanfaatkan ini. Tidak menutup kemungkinan juga mungkin ada oknum ya,” ucap Vena.
Di sisi lain, Kapolsek Pangalengan AKP Edi Pramana menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan dan pendalaman atas kejadian tersebut.
“Masih penyelidikan,” katanya saat dikonfirmasi.
Edi menjelaskan bahwa kericuhan terjadi saat kegiatan penanaman pohon berlangsung, lalu datang ratusan petani dan warga yang memprotes pengalihan fungsi lahan dari kebun teh menjadi kebun sayuran.
“Kemarin itu ada penanaman pohon. Terus ratusan massa tidak terkendali ada yang mencabut kebun sayur dan beberapa saung juga ikut dibongkar,” pungkasnya.
