Kasi Penanganan dan Pengendalian Sengketa ATR/BPN Kota Bandung, Bambang Saputro menambahkan, dari awal pendampingan pun pihaknya mengklaim sudah melakukan pendampingan. Bahkan terkait permasalahan Sukahaji ini tengah berjalan. Baik dari tingkat kanwil atau kementerian pengumpulan data sedang dilakukan.
“Apakah datanya termasuk ke mafia atau tidak? Jadi nanti kita tunggu dari Polda dan Polrestabes. Saat ini juga ada proses di pengadilan negeri, kami menghargai pihak tertentu dalam kasus ini,” tambahnya.
“Namanya berproses, kami tidak bisa menentukan waktunya. Apalagi di pengadilan. Jadi tidak bisa (menjanjikan) satu hari, dua hari selesai. Ini terkait banyak pihak dan tidak bisa hanya satu bulan. Kami tergantung masyarakat dan aparat, belum lagi kejaksaan tinggi dan pengadilan,” tegas Bambang.
Baca Juga:Tegas Larang Penarikan Sumbangan Masjid di Jalan, Dedi Mulyadi Terbikan Surat Edaran!Ada Bangunan Semi-Permanen dengan Plang Pemerintah di Trotoar, Wali Kota Bandung Minta Dibongkar!
Dalam audiensi itupun disepakati bahwa ATR/BPN Kota Bandung berjanji pada warga Sukahaji untuk menghentikan pelayanan bagi pihak luar yang bersengketa. Bahkan, pihaknya mengklaim sudah melakukan hal tersebut dari sebelum kasus sengketa lahan mencuat.
*Warga yang Mempertahankan Lahan*
Berkaca pascakebakaran di Sukahaji pekan lalu. Perwakilan pemuda Sukahaji, Felix, akui tak bisa menutupi rasa takutnya. Namun, bagi dia dan kawan-kawannya, rasa takut tak menghapus tekad.
“Kejadian kebakaran itu traumatik bagi warga. Tapi itu justru jadi bara semangat. Keberanian kami membara, dan api perlawanan tak padam,” ujarnya lantang.
Dia menyebut, di balik ketakutan warga, baik itu ibu yang menangis maupun adik yang panik saat api melahap rumah. Saat ini masih ada keberanian yang terus tumbuh dan belum padam.
“Karena ini soal mempertahankan ruang hidup, tempat kasih sayang tumbuh. Kalau teman-teman berani, saya akan lebih berani. Kami bertahan dan melawan,” sebutnya.
Tak hanya pemuda, suara getir juga datang dari warga lainnya. Ketua Forum Sukahaji Melawan, Ronal sempat menggambarkan betapa ancaman masih membayangi: pembakaran, pelemparan batu, hingga tekanan yang tak kunjung reda.
“Bagaimana kami bisa tenang?” katanya lirih namun tegas. “Kalau bukan karena mahasiswa dan kawan solidaritas, mungkin kami sudah tak sanggup. Mereka datang dengan kegiatan dan cara yang membuka mata warga. Ada yang bahkan mengembalikan uang.”
