Tradisi-tradisi Menjelang Ramadhan, Benarkah Tidak Ada Tuntunannya Dalam Islam?

JABAR EKSPRES – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak sekali tradisi-tradisi unik yang masih berkembang di masyarakat. Sayangnya, beberapa tradisi ini ternyata tidak ada tuntunannya dalam Islam.

Meski mengklaim sebagai bagian dari ibadah, namun beberapa ulama menegaskan bahwa tradisi tersebut tidak ada dasar hukumnya, dan justru lebih condong pada perkara yang diada-adakan.

Awal mula kemunculan tradisi-tradisi ini, biasanya dikaitkan dengan adat dan kebudayaan suatu daerah. Karena sudah dilakukan bertahun-tahun secara turun-temurun, sehingga banyak yang mengikutinya dan menganggap bahwa hal tersebut berkaitan dengan ibadah yang akan dilakukan, seperti memasuki bulan suci Ramadhan.

Baca juga :   Catat Ya ini Pembelajaran Saat Puasa Ramadan 2025

Berikut beberapa tradisi menjelang Ramadhan yang ternyata tidak ada tuntunannya dalam Islam.

1. Nyekar, Nyadran atau ziarah kubur

Tidaklah tepat ada yang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”).

Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ

“Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).”
(HR. Muslim no. 976, Ibnu Majah no. 1569, dan Ahmad 1: 145).

Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar.

Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

Ruwahan atau kirim doa

Kalau dikhususkan kirim do’a pada bulan ruwah (bulan Sya’ban) seperti yang masih laris manis di tengah tengah masyarakat, hal itu tidak ada tuntunannya.

Karena do’a yang disyari’atkan yang telah disebut di atas berlaku umum sepanjang waktu. Sedangkan kalau dikhususkan pada waktu tertentu, harus butuh dalil.

2. Munggahan atau Megengan

Hal ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum bulan puasa tiba, misal dengan berkumpul bersama keluarga dan rekan kerabat untuk sekedar makan-makan dan saling bermaafan pada saat munggahan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan