Ironisnya Sopir Truk: Risiko Kerja Tinggi juga Kerap Dijadikan Aktor Pencabut Nyawa, Tapi Upah Minim dan Diabaikan Pemerintah

Ilustrasi: Truk pengangkut barang melintas di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Senin (30/12). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Ilustrasi: Truk pengangkut barang melintas di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Senin (30/12). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

“Adapun penyebab kelelahan pengemudi adalah kurangnya waktu mereka untuk beristirahat,” jelasnya.

“Penghasilan pengemudi juga sebulan rata-rata Rp1 sampai Rp4 juta per bulan, masih di bawah upah minimal di daerah. Ini perlu jadi perhatian serius,” paparnya.

Djoko mengaku, pihaknya sudah banyak memberikan masukan serta usulan ke instansi pemerintahan terkait, mengenai pentingnya kesejahteraan hingga regulasi bagi perusahaan agar memberikan prioritas dalam uji kompetensi pengemudi truk.

Baca Juga:Kawasan Wisata Lembang Rawan Pungli, Ini Kata Disparbud Bandung BaratProdusen Cairan Kaustik dan Transporter Mangkir, DLH Bandung Barat Geram!

“Kita tunggu kebijakan selanjutnya dari Menteri Perhubungan, supaya angka kecelakaan menurun. Juga selalu dinanti ketegasan Presiden Prabowo Subianto mengatasi angkutan barang berdimensi dan bermuatan lebih (ODOL),” imbuhnya.

“Jika masih diabaikan, truk akan tetap menjadi pencabut nyawa di jalan. Bermobilitas di negeri yang tidak berkeselamatan akan menghambat cita-cita pemerintah mewujudkan menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Djoko. (Bas)

0 Komentar