Waspada Benih Kotak Kosong di Pilkada Jabar, Ini Kata Pengamat

Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Firman Manan (kanan) dalam diskusi yang digelar IPRC, Jumat (09/08).
Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Firman Manan (kanan) dalam diskusi yang digelar IPRC, Jumat (09/08).
0 Komentar

Firman menilai, meski didukung KIM, Dedi Mulyadi belum tentu menang mudah di Jabar. Alasannya adalah belum tentu loyalis Ridwan Kamil akan seratus persen mendukung mantan Bupati Purwakarta itu. “Loyalis Ridwan Kamil bisa pindah ke figur lain karena kecewa,” cetusnya.

Masa yang kecewa karena Ridwan Kamil tidak jadi maju di Pilkada Jabar bisa berputar halauan. Hal itu mestinya bisa dimanfaatkan lawan politik atau kompetitor KIM.

Penantang yang paling mumpuni atas hadirnya koalisi besar dan popularitas kandidat adalah mesin partai yang efektif. Modal itu sebenarnya ada di dua partai besar itu.

Baca Juga:Babak Baru Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa, Kejari Tetapkan 1 ASN Pemkot Bandung jadi TersangkaMasyarakat Diminta Sabar, Perbaikan Jalan Nanjung Diharapkan Cepat Tuntas

Misalnya belajar dari Pilkada 2019, pasangan yang diusung PKS waktu itu bisa memberi kejutan di detik-detik akhir walaupun memang belum bisa sampai menang. “Kala itu survei pasangan Sudrajat-Syaikhu di angka 10 – 11 persen, tapi hasil akhir bisa di angka 28an persen. Mesin partai yang efektif bisa ubah peta pertarungan,” cetusnya.(son)

0 Komentar