“Kemudian ada juga memang areanya diatas pembukaan lahan kemudian aliran air juga mengarah ke sayap kanan semua jadikan tidak hanya dari satu faktor kemudian ditambah lagi ada masalah dari batuannya sendiri batulempung dan pasir,” katanya.
Ia menyebut, batuan lempung yang berada di lokasi bencana pergerakan tanah ini memang tidak terisolir terhadap air. Dengan begitu, bencana pergerakan tanah di kawasan tersebut tidak dapat dihindari.
“Kalau terpotong juga terkena sinar matahari basah kering, basah kering itu, menjadi masalah tersendiri itu dari internal batuannya cuma faktor dari infiltrasi air berlebihan yang menjadi penyebabnya,” katanya.
Baca Juga:Penjelasan Satpol PP Kota Bandung Terkait Bentuk Pelanggaran Minimarket di GegerkalongAlih Fungsi Lahan KBU Bukan Masalah Sederhana, Pengamat ITB Beberkan Segudang Persoalannya
Ia menegaskan, potensi pergerakan tanah tersebut hanya terjadi di lokasi itu. Hal itu lantaran lokasi tersebut sudah terbentuk huruf U yang menyerupai tapal kuda.
“Kalau saat ini potensinya hanya di area situ karena sudah terbentuk tapal kuda kan. Khawatirnya memang jika bergerak terus longsornya longsor saja,” katanya.
Ia menegaskan, berdasarkan hasil sementara kerawanan di area tersebut berada pada titik menengah hingga tinggi. Oleh karena itu, kawasan tersebut masih berpotensi terjadi longsor susulan.
“Kalau sementara sih sebaiknya direlokasi sih karena memang akan buka terus walaupun melakukan rekayasa ini ketidakpastiannya tinggi dan sulit juga kan kalo liat rekahan nya aja dua meter sampai 4 meter dalamnya,” tandasnya. (Wit)
