VP of Media and Digital TSI Group, Alexander Zulkarnain, menambahkan, Yayasan KASI berperan aktif untuk menjadi upaya pelestarian lingkungan dibidang satwa dengan berbagai ahli, periset dan pecinta satwa yang aktif terlibat akan memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian satwa di Indonesia.
“Kami berharap masyarakat bisa mendukung kerja KASI ke depannya. Ditambah dukungan dari media massa dalam hal ini pers Indonesia,” ungkap Alex yang juga ditunjuk sebagai Kepala Divisi Publikasi Yayasan KASI.
Yayasan Konservasi Alam dan Satwa Indonesia atau disingkat KASI merupakan yayasan non pemerintah yang didirikan pada tahun 2014 dan secara resmi terdaftar dalam akta pendirian perkumpulan No. 36 tanggal 16 Oktober 2014. KASI berafiliasi dengan Taman Safari Indonesia yang fokus pada kegiatan konservasi satwa liar langka Indonesia yang saat ini terancam kepunahan di alam.
Baca Juga:8 Tips Merawat Sepatu dengan Baik dan Benar!3 Rekomendasi Tempat Hiking untuk Pemula, Pemandangan Maksimal, Ada Julukan Merbabu Asal Bandung!
Selain itu, KASI melalui Taman Safari Indonesia dan PCBA telah mereintroduksi jalan suren jawa (Gracupica jalla) di wilayah Taman Safari Prigen, wilayah persebaran alami jalak suren jawa, pada November 2022. Sejak 2023, KASI menjalin kerjasama dengan TN Wakatobi dalam program pengawetan kacamata wangi-wangi (Zosterops paruhbesar). Pertengahan tahun 2023 menjadi awal dari program semi-liar babi kutil jawa (Sus verrucosus) di dalam area seluas 100 hektar di dalam Taman Safari II Jatim. Selain untuk satwa-satwa tersebut, KASI juga telah memulai upaya pengawetan burung murai maratua (Copsychus barbouri) di Pulau Maratua.
