JABAR EKSPRES – Mendekati Tahun Baru Imlek, pusat perbelanjaan mulai meriah dengan pernak-pernik khas Imlek. Salah satu yang paling diminati adalah kue keranjang, atau dalam bahasa Mandarin disebut Nian Gao.
Mari kita telusuri lebih dalam tentang Kue Keranjang beserta sejarahnya dan alasan kuat mengapa ia begitu identik dengan perayaan Imlek.
Pengertian Kue Keranjang
Dalam buku Kuliner Betawi Selaksa Rasa & Cerita karya Shinta Teviningrum, kue keranjang, atau dalam dialek Hokkian disebut tii kwee, berarti kue manis.
Baca Juga:Jadwal dan Tempat Atraksi Barongsai di Kota Bandung yang Bisa DinikmatiDoa Spesial yang Bisa Dibaca Ketika Malam Isra Mi’Raj
Kue ini terbuat dari campuran ketan dan gula yang dicetak dalam wadah cetakan berbentuk keranjang.
Karakteristik Kue Keranjang
Kue keranjang memiliki rasa dan tekstur yang mirip dengan dodol, membuatnya dikenal sebagai dodol Cina di Jawa Barat.
Rasanya manis legit dengan tekstur kenyal dan lengket. Kue keranjang biasanya disimpan di suhu ruangan atau di dalam lemari pendingin agar teksturnya memadat dan keras.
Sebelum disantap, kue ini perlu dikukus agar lunak dan kenyal kembali.
Sejarah Kue Keranjang
Menyadur dari buku Kepingan Narasi Tionghoa Indonesia The Untold Histories karya Hendra Kurniawan, legenda menyebutkan bahwa pembuatan kue keranjang bermula ketika Tiongkok mengalami paceklik.
Para pengungsi membuat kue ini sebagai makanan yang tahan lama dan mengenyangkan.
Bahan dasarnya terdiri dari tepung ketan dan gula yang dicampur, lalu dikukus dalam wadah berbentuk keranjang.
Legenda ini dipercaya terjadi sekitar 2.500 tahun yang lalu.
Baca Juga:Syarat dan Cara Pindah TPS Pemilu 2024Seleksi CPNS 2024 Periode 1 Kapan Dibuka? Cek Informasinya Disini
Tradisi Imlek dan Kue Keranjang
Kue keranjang kemudian dijadikan sesaji pada upacara sembahyang leluhur, terutama menjelang Tahun Baru Imlek.
Biasanya, kue ini tidak dimakan hingga malam Cap Go Meh, yang merupakan malam ke-15 setelah tahun baru Imlek.
Ada beragam versi legenda, salah satunya dikaitkan dengan Legenda Dewa Dapur, di mana kue keranjang digunakan sebagai persembahan licik kepada Dewa Dapur.
