Setelah beriman, tugas kita adalah berdialog. Jika dialog kita tersumbat, maka akan terjadi permasalahan besar dan juga kata Sayyidina Ali, manusia yang utuh dan sempurna adalah ia yang mempunyai gagasan dan mau berdialog.”
Dalam dialog ini, kami menyaksikan semangat inklusivitas dan kepedulian dari setiap peserta, yang terwujud dalam upaya kolaboratif untuk berbagi pengalaman dan menciptakan langkah-langkah bersama dalam merajut damai lewat toleransi.
Kemudian, peserta dialog terbagi dalam kelompok kecil dan didampingi oleh fasilitator untuk FGD dengan beberapa pertanyaan pemantik :
Baca Juga:Update! Kecelakaan Maut Rancakalong Sumedang, Polisi Beberkan Dugaan KronologinyaTok! Presiden Jokowi Lantik Menantu Luhut, Maruli Simanjuntak Jadi KSAD
- Ceritakan satu pengalaman kalian berinteraksi dengan orang/kelompok dari lintas iman dan budaya?
- Apa konflik atau tantangan yang kalian lihat soal hubungan lintas iman dan budaya di sekitar kalian?
Pada acara ini, perwakilan dari Mahasiswa STT INTI Bandung menyatakan betapa berkesan dan berharganya pengalaman berdialog dengan teman berbeda agama.
Ternyata masih ada orang-orang yang membenci minoritas dan itu adalah oknum. Setelah saya berkomunikasi dengan teman-teman muslim, saya jadi paham bahwa ternyata Islam tidak mengajarkan hal tersebut. Dulu saya berpikir bahwa ada jarak dan tembok yang membatasi saya dengan yang non kristiani sehingga tidak bisa tercipta komunikasi”
Ditambahkan oleh perwakilan Santriwati PPM Universal yang menyatakan bahwa “Ternyata sekolah yang berbasis agama tidak bisa menjamin bahwa dia bisa menjadi orang yang toleran dan moderat. Lalu aku belajar bahwa ternyata semua agama mengajarkan hal kebaikan tidak ada yang mengajarkan keburukan. Ketika seseorang sudah menumbuhkan cinta kepada Tuhan maka ia akan menyebarkan cintanya kepada semesta”.
