Haris menerangkan, standardisasi dari hulu ke hilir produk pertanian akan memberikan petani nilai tambah dari penjualan sebelumnya.
Sebagai contoh Gebyar Agro Standar BSIP Kementan menghadirkan ragam jenis mangga asli Indonesia yang dulu selalu ditolak ketika diekspor ke luar negeri, kini sudah ada beberapa negara yang meminta ekspor dari Indonesia.
Komoditas mangga layak ekspor itu ada di tiga kabupaten yakni Majalengka, Cirebon, dan Indramayu.
Baca Juga:Tak Mau Berpisah, Wabup Erwan Setiawan Terus Menerus Minta Doa Agar Tetap Bersama-samaLisa BLACKPINK Cetak Sejarah Baru dengan Lagu “MONEY”!
“Hari ini media publikasi agro standar sudah kami mulai. Masyarakat paham bahwa di pertanian itu ada yang mengurus pertanian standar,” sebutnya.
Haris mengajak petani dan produsen hasil pertanian tidak ragu-ragu menerapkan standardisasi pembibitan hingga pengolahan hasil tani.
Sebab, Ia menilai banyak petani dan produsen yang masih menganggap menerapkan standar membutuhkan biaya, karena perlu alat, keahlian, keterampilan sehingga berat karena mengeluarkan biaya.
“Padahal kalau barangnya sudah standar harga produknya juga naik. Seperti di sini petani mangga, biasa jual Rp15 ribu sampai Rp20 ribu. Sekarang dijual ke AEON, Rp38 ribu harga petani,” beber Haris.
Diketahui, pada puncak acara kegiatan ini akan dihadiri Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pejabat eselon satu dan lain-lain. Pada kesempatan itu juga dilaksanakan kegiatan pemecah rekor MURI meminum minuman herbal terbanyak se-Indonesia, jalan santai, dan pemberian penghargaan. (YUD)
