JABAREKSPRES.COM, BANDUNG – Peta koalisi untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 berubah menyusul duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang resmi mendeklarasikan diri sebagai Capres dan Cawapres.
Langkah kedua tokoh itu dinilai cukup mengejutkan. Karena, sebelumnya mereka berada di poros koalisi yang berbeda. Anies berada di Koalisi Perubahan bersama Partai Demokrat, Partai Nasdem, dan PKS. Sementara Cak Imin ada di poros Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) bersama Partai Gerindra.
Pengamat Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Firman Manan memprediksi bukan mustahil jika nanti bakal ada poros baru sebagai efek perpecahan dua poros koalisi itu.
“Koalisi baru duet AHY – Sandiaga Uno bukan tidak mungkin,” jelasnya.
Baca Juga:DPRD Kabupaten Bogor Dapil I Gelar Reses Masa Sidang III di CibinongLagi! Pemkot Bogor Colek BUMN, Ngotot Ingin Bangun Trem
Firman menilai, untuk PKS sepertinya masih akan tetap teguh mendukung Anies. Menurutnya, PKS cukup mengharapkan mendapat efek dari sosok Anies Baswedan.
“Karena PKS tidak punya figure lain,” sambungnya.
Firman juga berpendapat, bahwa duet Anies – Cak Imin terjadi karena problematika di koalisi awal yang masih alot dalam penentuan cawapres. Di kubu Cak Imin misalnya, ia mulanya cukup percaya diri saat membangun KKIR bersama Prabowo Subianto atau Gerindra. Karena saat itu peluang Cak Imin untuk jadi cawapres cukup besar.
“Proposalnya PKB kan Cak Imin Cawapres,” jelas Firman.
Seiring berjalannya waktu, KKIR mengalami gonjang – ganjing dengan bergabungnya PAN dan Golkar. Peluang Cak Imin untuk jadi cawapres mengecil karena ada Airlangga dari Golkar atau Erick Thohir yang diusulkan PAN.
“Malah nama koalisi sudah dirubah jadi Indonesia Maju, sepertinya juga tanpa sepengetahuan Cak Imin,” jelasnya.
