“Kalau hujan deras dan terus-menerus, Desa Sangiang bisa meluap air, kalau kemarau panasnya berkepanjangan biasanya kering. Tapi karena masih hujan dan hujannya sebentar, alhamdulillah masih aman,” ungkapnya.
Hadi menuturkan, sampai saat ini pihaknya masih belum menerima surat edaran atau rapat koordinasi dari Pemerintah Kabupaten Bandung, terkait antisipasi kekeringan hadapi musim kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung pun, diakuinya belum memberikan arahan terkait ancaman kekeringan dari musim kemarau 2023.
Baca Juga:Gara-gara Judi Online, Dua Orang Saling Tikam dengan Pisau Pasar Losari Kebakaran! Damkar Kabupaten Cirebon Kerahkan 9 Unit Armada untuk Segera Padamkan Api
“Karena memang walau kemarau tapi hujan masih suka turun, jadi tidak terlalu berdampak kering. Paling yang jadi perhatian itu kabarnya dampak El Nino,” tuturnya.
“Musim kemarau tahun ini juga udaranya kalau malam dan pagi hari dingin kerasanya, suhunya enggak begitu kering,” tukas Hadi.
Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Teguh Rahayu mengatakan, wilayah Jawa Barat saat ini tengah mengalami musim kemarau.
Kendati demikian, terkait musim kemarau ini, BMKG tetap mengimbau kepada institusi terkait serta seluruh masyarakat, untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau.
Diketahui, selain ancaman musim kemarau, wilayah Bandung Raya pun diprediksi BMKG akan menghadapi badai El Nino.
Berdasarkan pengamatan di wilayah Samudera Pasifik area Nino 3,4, BMKG serta beberapa badan meteorologi dunia memprediksi, potensi lebih dari 60 persen terjadi badai El Nino.
Sebagai informasi, El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.
Baca Juga:DPRD Jawa Barat Minta Pemda Terus Dukung dan Pertahikan SLBJokowi Tegaskan LPG 3 kg Hanya Untuk Masyarakat Kurang Mampu
Pemanasan SML tersebut, meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia.
“Menyikapi adanya peluang El Nino di Semester II, tahun 2023, maka diperlukan beberapa langkah aksi dan antisipsi dini untuk mengurangi dampaknya,” beber Ayu.
Dia menjelaskan, potensi kekeringan yang terjadi pada sebagian wilayah Indonesia, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi risiko bencana.
“Seperti kekeringan, kekurangan air bersih dan gagal panen yang bisa memicu terganggunya ketahanan pangan,” jelas Ayu.
“Dihimbau pada puncak musim kemarau, masyarakat bisa lebih siap menghadapi bencana hidrometeorologis yang mungkin terjadi. Namun, yang terpenting, masyarakat tidak perlu panik dengan isu El Nino,” pungkasnya. (bas)
