Mitos dan Ritual Mistis di Bulan Suro yang Masih Menjadi Tradisi di Masyarakat

Ilustrasi ritual mistis yang masih dilakukan di Bulan Suro. (pixabay)
Ilustrasi ritual mistis yang masih dilakukan di Bulan Suro. (pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Penanggalan Islam atau kalender Hijriyah dimulai dari bulan Muharam atau dalam penanggalan jawa disebut Sasi Suro. Dalam kepercayaan Jawa, bulan suro menjadi bulan yang keramat, sehingga banyak dilakukan ritual mistis dan beredar mitos yang kadang tidak bisa diterima akal.

Meski dari segi agama sudah banyak diberikan tausiah mengenai keutamaan bulan Muharam yang sesungguhnya sangat istimewa, namun kepercayaan dan tradisi di masyarakat sangat sulit untuk diubah. Terutama terkait ritual mistis yang tetap dilakukan di Bulan Suro ini.

Dilansir dari laman Al Hikmah, ada beberapa tradisi dan keyakinan yang dilakukan sebagian masyarakat Jawa, yang masih meyakini bahwa Suro sebagai bulan yang keramat dan penuh bala.

Baca Juga:4 Benteng Pelindung Manusia Dari Perkara RibaBela Panji Gumilang, Suami Artis Terkaya Indonesia Siap Pasang Badan untuk Biayai Al Zaytun

Sehingga untuk mencegah bala atau bencana terjadi, diadakanlah upacara ruwatan dengan mengirim sesajen atau tumbal ke laut. Bahkan ada juga yang melakukan semedi mensucikan diri dengan bertapa di tempat-tempat sakral seperti di puncak gunung, tepi laut, makam, gua, pohon tua, dan sebagainya.

Bukan hanya itu saja, ada juga yang melakukan cara lain yakni dengan cara lek-lekan atau berjaga hingga pagi hari di tempat-tempat umum , seperti tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan lokasi lainnya.

Sebagian masyarakat yang berada di dekat kraton juga memiliki cara sendiri yaitu mengelilingi benteng keraton sambil laku bisu yakni berjalan berkeliling tanpa mengeluarkan suara sama sekali dari mulutnya.

Selain ritual-ritual yang terkesan mistis tersebut, juga beredar mitos berupa larangan-larangan melakukan beberapa hal di bulan suro, seperti mengadakan pernikahan, khitanan, melakukan perjalanan jauh dan juga membangun rumah.

Jika hal tersebut sampai dilakukan, maka masyarakat berkeyakinan akan terjadi kesialan dan malapetaka bagi diri mereka.

Bukan hanya mitos tentang larangan-larang yang dilakukan di Bulan Suro, ada juga tradisi ngalap berkah, yakni mencari berkah dengan melakukan ritual tertentu, seperti mandi di grojogan atau air terjun yang dianggap keramat, memandikan benda-benda atau pusaka keramat lalu di kirab, melakukan selamatan dimalam satu suro, membaca doa khusus agar tidak meninggal dalam satu tahun kedepan dan lain sebagainya.

0 Komentar