5 Wisata Goa di Bandung Ini Ternyata Punya Kisah Seram! Mau Tahu?

wisata bandung
0 Komentar

Di sini, tidak ada petunjuk yang jelas untuk mencapai Goa Sanghyang Poek. Anda perlu mengikuti sungai dengan arah berlawanan dari aliran sungai.

Goa ini memiliki lanskap yang miring atau diagonal. Setelah memasuki mulut goa, Anda akan menemukan tiga lorong, dan lorong yang berada di tengah akan membawa Anda ke Sanghyang Poek.

Di dalam goa ini, Anda dapat merasakan tetesan air langsung dari dinding goa dan merasakan sensasi kegelapan di dalam goa.

Baca Juga:3 Wisata Terbaik Bandung yang Hits, Ada yang Lagi Viral!4 Rekomendasi Roti Bakar Kuliner Bandung yang Sedap!

  1. Goa Belanda, Ciburial Bandung

Goa Belanda terletak sekitar 1 kilometer dari pintu gerbang Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda melalui gerbang Dago Pakar. Goa ini didirikan oleh kolonial Belanda pada tahun 1912.

Awalnya, goa ini merupakan terowongan yang digunakan untuk mengalirkan air sungai Cikapundung yang digunakan oleh PLTA Bengkok.

Terowongan tersebut kemudian diubah menjadi Goa Belanda yang memiliki panjang 144 meter dan lebar 1,8 meter.

Selama masa pemerintahan Belanda, goa ini digunakan sebagai stasiun radio telekomunikasi.

Ketika Indonesia meraih kemerdekaan, goa ini digunakan sebagai gudang penyimpanan mesiu oleh para pejuang.

  1. Goa Jepang, Ciburial Bandung

Setelah melepaskan penjajahan Belanda, militer Jepang mendirikan sebuah goa di lokasi yang sama pada tahun 1942.

Goa Jepang ini terletak sekitar 600 meter dari pintu gerbang Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda melalui gerbang Dago Pakar.

Baca Juga:Kuliner Ala Timur Tengah di Bandung, Bisa Menambah Selera Makan!DPR Tanggapi Ide Marketplace Guru dari Menteri Nadiem Makarim

Goa ini dibangun oleh militer Jepang sebagai barak militer dan tempat perlindungan.

Di dalam Goa Jepang, terdapat 18 bunker yang masih dalam kondisi aslinya, berbeda dengan Goa Belanda yang telah mengalami beberapa kali renovasi.

Bunker-bunker ini memiliki fungsi beragam, seperti tempat pengintaian, tempat penembakan, ruang pertemuan, gudang, dan dapur.

Konon, militer Jepang memanfaatkan tenaga kerja paksa dari masyarakat Indonesia, yang dikenal sebagai Romusha, untuk membangun Goa Jepang ini.

Goa Belanda terlihat lebih kokoh dengan dinding yang disemen, sedangkan Goa Jepang terlihat dalam kondisi asli tanpa renovasi.

0 Komentar