JABAR EKSPRES – Dalam 5 tahun terakhir, hacker Korea Utara secara aktif terus menerus mencuri $2,3 miliyar dalam kripto. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Elliptic dalam hasil studi yang dilakukannya. Elliptic merupakan lembaga pengamat blockchain.
Target utama hacker Korea Utara tersebut adalah pengguna kripto di Jepang, Vietnam, Amerika Serikat, dan Hongkong.
Pengguna Jepang menjadi korban terbesar dengan total kerugian $721 juta atau sekitar 30% dari seluruh hasil curian hacker Korea Utara. Kemudian, Vietnam mengalami kerugian sebesar $540 juta. Lalu, Amerika Serikat mengalami kerugian sebesar $497 juta. Terus, Hongkong mengalami kerugian sebesar $281 juta.
Baca Juga:Indonesia Open 2023: Informasi Lengkap dan Pembelian TiketRp60 Juta untuk Konser Coldplay? Mending Alihin ke Destinasi Liburan Ini!
Menurut lembaga Jetro Jepang, kerugian pengguna Jepang akibat serangan hacker Korea Utara bahkan 8,8 kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan daya ekspor Korea Utara di tahun 2021.
Hasil curian hacker Korea Utara ini merupakan pemasukan besar bagi negara Korea Utara. Berdasarkan data yang ada, ekspor negara Korea Utara berkisar antara $100 juta hingga $150 juta per tahun.
Walaupun begitu, tidak ada kerugian finansial atas serangan ini seperti yang menimpa pengguna kripto di Jepang, Vietnam, Hongkong, dan Amerika Serikat.
Dengan adanya isu ini, seharusnya membuat pemerintah Indonesia lebih waspada terhadap serangan siber. Diharapkan ada kolaborasi antara Kemenkominfo, BSSN, dan stakeholder terkait keamanan siber ini. (*)
