Apa itu Princess Syndrome? Mengapa Bisa Terjadi?

Ilustrasi: Princess Syndrome pada anak perempuan.
Ilustrasi: Princess Syndrome pada anak perempuan.
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Princess Syndrome atau sindrom tuan putri merupakan kelainan mental yang kini sedang merebak di kalangan remaja putri Indonesia, bahkan dunia.

Princess syndrome digambarkan sebagai sikap orangtua yang terlalu memanjakan anaknya sehingga terlabeli sebagai ‘putri’ atau ‘ratu kecil’. Hal ini ditandai dengan perilaku materialistik, ekspektasi yang tidak masuk akal (tidak realistis), merasa superior, dan eksploitatif.

Tanda-tanda dari Princess syndrome ini adalah selalu rewel, ragu-ragu namun harus tetap bertanggungjawab, merengek tanpa henti, menerima segala sesuatu begitu saja, dan mengharapkan orang lain dapat memenuhi setiap keinginan mereka.

Baca Juga:Pemkot Bandung Kaji Ulang Mengenai PLTSa GedebageTim Indonesia Penuhi Target Presiden Jokowi pada SEA Games 2023 Kamboja

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Psikolog klinis California Southern University, Nancy Irwin mengungkapkan bahwasanya para perempuan yang mengidap Princess syndrome memiliki pikiran yang tidak masuk akal. Mereka merasa pantas untuk mendapatkan segala perhatian karena kecantikan yang mereka miliki.

Pengidap sindrom ini meyakini, mereka terlalu Anggun untuk bekerja sehingga memanipulasi orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa usaha sendiri. Pada akhirnya, sindrom ini membuat mereka tidak memiliki wawasan yang luas, tidak dapat bekerja, dan berkompromi karena laki-laki harus melayani mereka dengan baik.

Sebaiknya orangtua tidak melabeli anak, mengembangkan kemandirian yang mereka punya, meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri, menghindari pertemanan yang eksploitatif, dan bertanggungjawab dengan segala apa yang mereka perbuat.

0 Komentar