“Dulu pesawahan masih terbilang banyak, sekarang udah ganti jadi perumahan dan banyak pembangunan,” jelasnya.
Dedi memaparkan, dari banyaknya pembangunan yang terjadi di Kota Bandung itu, sebagian besar abai terhadap saluran drainasenya.
“Seperti tidak ada perhitungan dan kajian mengenai drainase, karena ketika ada resapan air diganti jadi perumahan itu drainasenya harus diatur sedemikian rupa,” paparnya.
Baca Juga:Anti Ribet! Pinjol Legal, Sediakan Limit Besar dan Cocok Untuk Modal UsahaLink Penghasil Saldo DANA Gratis Langsung Cair Rp 150 Ribu! Bagini Cara Dapatnya
Karenannya, Dedi menganggap bahwa pihak Pemkot Bandung melalui dinas terkait terkesan abai terhadap dampak lingkungan setiap pembangunan dilakukan.
Sebelumnya, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) Kota Bandung, Didi Ruswandi menerangkan, salah satu rencana pembangunan yang relatif besar di tahun 2023 adalah kolam retensi di empat lokasi.
Empat lokasi untuk kolam retensi baru tersebut yakni pembangunan di Kompleks Margahayu Raya. Sedangkan tiga lainnya ada di Pasar Leuwipanjang, Pasirkoja, dan Rancabolang.
“Anggaran untuk penanganan banjir Kota Bandung totalnya hampir mencapai Rp 300 miliar. Itu sudah termasuk bina marga dan sumber daya air,” terangnya.
Ruswandi berharap, dengan bertambahnya kolam retensi, maka bisa menjadi penyelesaian masalah banjir Kota Bandung.
“Kita harapkan itu (kolam retensi) bisa menyelesaikan banjir di sekitar pesantren di Ciwastra,” harapnya.
“Kita sedang membangun kolam retensi secara swakelola sejajar dengan tol di Rancabolang. Ukurannya kita perbesar,” lanjut Ruswandi.
Baca Juga:Nyata 100 Persen Dibayar Saldo DANA Gratis Rp 7 Juta! Cepat Daftar di Aplikasi IniTanamkan Rasa Cinta Tanah Air, Praja IPDN Laksanakan Kemah Juang
Di samping kolam retensi, Pemkot Bandung mengklaim tengah membangun rumah pompa di Cibaduyut.
Saat ini statusnya sudah pada tahap kontrak dengan pemenang lelang. Ruswandi menyampaikan, melalui rumah pompa ini bisa mengatasi banjir di Cibaduyut. (bas)
