Dies Natalis ISBI Bandung ke-54 dan ‘Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman’-nya

Dies Natalis ISBI Bandung ke-54 dan 'Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman'-nya
Rektor ISBI Bandung, Retno Dwimarwati.
0 Komentar

JabarEkspres.com, BANDUNG – Menyentuh usia ke-54 tahun, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung berupaya untuk adaptasi dengan perkembangan zaman, tanpa mencerabut adat budaya nenek moyang.

Hal demikian tampak dari tema besar dies natalis pada tahun ini, yaitu Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman. Dimana memiliki arti, penyesuaian diri dengan zaman serta tetap mengakar pada budaya sendiri.

Rektor ISBI Bandung, Retno Dwimarwati menyebut, alasan pihaknya mengusung tema tersebut, yakni untuk berfokus pada tradisi. Sebuah tradisi yang hidup, alih-alih tradisi stagnan.

Baca Juga:Anggota DPRD KBB Komisi 2, Dadan: Kasatpol Mundur Saja!Pengamat Politik Sebut Hengky Perlu Realisasikan Janji-Janji Politik

“Orang menganggap tradisi itu zaman baheula. Padahal tradisi itu bisa di-reinterpretasi, reorientasi, redefinisi, kemudian bisa juga di-reimplementasi,” sebut Retno kepada Jabar Ekspres di Bandung, Kamis, 6 Oktober 2022.

Jadi, lanjutnya, semua nilai-nilai tradisi bisa lahir dengan penuh kebaruan. Tentu, sesuai dengan kebutuhan zaman.

“Maksudnya, ‘ngindung ka waktu, mibapa ka jaman’ itu bahwa semuanya bisa bergulir,” imbuhnya.

Sekalipun, kata Retno, cenderung bakal melahirkan perubahan fungsi dari sebuah tradisi, tetapi masih bisa digunakan dengan cara yang baru. Lantas, hal tersebut mesti dijawab oleh ISBI Bandung.

“Kami punya pilar, paling pertama adalah konservasi. Jadi, kita akan melestarikan semua hal yang berbau tradisi,” paparnya.

Lalu pilar kedua, rekonstruksi. Menurutnya, sekalipun sebuah tradisi sudah punah atau hampir punah, pihaknya bakal berupaya memugar dan  membangun kembali.

“Tapi tentu saja dengan persoalan, apakah reimplementasi atau reorientasi? Jadi, ada pembacaan ulang terhadap apa yang sudah hidup,” ungkap Retno.

Baca Juga:Dua Varietas Unggul Baru Kentang IPB University Genjot Kebutuhan Industri Keripik dalam NegeriSuporter Persikabo Siap Berangkat Ke Malang, Dukung Aksi Damai dan Doa Untuk Para Korban

“Ketiga adalah revitalisasi. Bagaimana nilai-nilai tradisi lama, yang jika tradisi itu masih bisa dipakai jaman sekarang, kenapa tidak kita lakukan lagi dan hidupkan kembali,” tambahnya.

Jadi, dirinya melanjutkan, revitalisasi itu menjadi tanggung jawab ISBI Bandung. Yakni untuk pemuliaan terhadap hal-hal yang pernah hidup dari leluhur pada masa lampau.

Kemudian yang terakhir, tegas Retno, yaitu inovasi.

“Tentu saja menjawab ‘ngindung ka waktu, mibapa ka jaman’, itu dalam bentuk inovasi,” tegasnya.

“Nah, itu sudah dilakukan banyak hal oleh civitas akademisi bandung dalam penelitian dan pengabdian masyarakat, juga pendidikan dan pengajaran,” pungkasnya.*** (zar)

0 Komentar