Gelar Barbekyu-an di Depan Masjid Belanda, Kelompok Islamofobia Hendak Meledek Umat Islam yang Berpuasa

Gelar Barbekyu-an di Belanda, Kelompok Islamofobia Hendak Meledek Umat Islam yang Berpuasa
Demonstrasi PEGIDA di Apeldoorn, Belanda. Sumber Foto: Wikimedia Commons
0 Komentar

Dimulai pada tahun 2014, kelompok yang bersemangat anti-Islam ini, PEGIDA, mengadakan unjuk rasa dan protes pertamanya dalam menentang Islam di Dresden, Jerman, dengan massa sekitar sebanyak 350 orang, termasuk 12 organisator.

Selanjutnya pada awal tahun 2015, massa pengunjuk rasa penentang Islam itu dikabarkan telah mencapai sekitar 25.000 orang, meski dalam waktu yang berangsur-angsur mengalami penurunan.

Berdasarkan keterangan dari DW.com, pendiri dari kelompok Islamofobia yang berbasis di Dresden Jerman itu diketahui bernama Lutz Bachmann, seorang kriminal yang pernah divonis hukuman akibat pose dan gestur Hitler yang ia tunjukkan di media sosial.

Baca Juga:Kelompok Islamofobia Berencana Mengusik Puasa Umat Islam di BelandaPiala Dunia Qatar: Review Kekuatan Tim Grup G, Neymar jadi Sorotan

PEGIDA sukses menggelar aksi demonstrasi dan protes terutama di kawasan bekas Jerman Timur dengan memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat yang makin tajam atas pemerintah pusat, terkait politik pengungsi dan imigran dari pemerintahan Kanselir Merkel.

Kelompok Islamofobia ini, PEGIDA, telah menjadi inspirator bagi xenophobia baik di dalam maupun di luar Jerman.

Organisation of Islamic Cooperation (OIC) mendefinisikan Islamofobia sebagai kombinasi dari kebencian, ketakutan, dan prasangka terhadap Islam, terhadap umat Muslim, serta terhadap semua yang terkait dengan agama, seperti Masjid, pusat-pusat peribadatan Islam, Al-Qur’an, Hijab, dll.

Islamofobia juga merupakan kebencian, stigmatisasi, rasisme dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari, di media-media massa, di tempat kerja, di bidang politik, dll.

Ia ada dalam pikiran dan tercermin dalam sikap, dan dapat dimanifestasikan melalui tindakan kekerasan, seperti membakar masjid, merusak properti, melecehkan perempuan berhijab dan bercadar, atau menghina Nabi, tokoh-tokoh Muslim yang dijunjung tinggi, atau simbol suci Islam. Ia juga dapat tercermin melalui perspektif, pernyataan, perilaku, dan gestur.

0 Komentar