Emil menyebut, beberapa daerah seperti Depok, Bogor, Kabupaten Bekasi sudah melakukan simulasi, tinggal sisanya akan dilakukan oleh bupati dan wali kota.
“Kami sedang mensimulasikan dan memerintahkan bupati dan wali kota Minggu ini untuk melakukan simulasi vaksin Covid-19 di wilayah masing-masing,” jelasnya.
Terkait vaksinator (orang yang menyuntik vaksin), Emil mengungkapkan, jumlahnya bertambah dari 1.000 menjadi 11.000 orang. Oleh karena itu, lanjut Emil, akan memberikan pelatihan lebih dalam pada vaksinator.
Baca Juga:Sekolah Tatap Muka Menuai PolemikHadapi Pemilu 2024, PPP Mulai Bernah Diri
“Tadinya hanya 1.000 orang sekarang kami latih bakal menjadi 11.000 orang. Alhamdulillah Pemprov Jabar siap, 10 kali lipat lebih sehingga kita akan berlimpah tim yang akan menyuntikkan vaksin,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jabar Oleh Soleh mengatakan, proses vaksinasi yang dipercepat ini lebih penting.
Kemudian, lanjut dia, waktu pelaksanaan vaksinasi dipercepat juga dari target 15 bulan menjadi 12 bulan. “Saya sepakat dengan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil kalau batasan vaksinasi Covid-19 menjadi 6 bulan saja. Semakin cepat semakin baik,” kata Oleh.
Dia juga mengajak seluruh masyarakat di Jabar untuk menyukseskan vaksinasi Covid-19. Menurut Oleh, vaksinasi Covid-19 menjadi penting bagi semua pihak sebagai ikhtiar agar tubuh bisa terbebas dari ancaman virus Covid-19.
Selain itu, Oleh memaparkan, tingkat kesembuhan cukup meningkat di angka 85 persen sementara kesembuhan di level nasional 82 persen. Sedangkan, tingkat kematian berkurang 1,3 persen dan rata-rata di level nasional 3 persen.
Di samping itu, Oleh juga mengungkapkan, masih terdapat daerah yang berstatus zona merah Covid-19 di Jabar, seperti Kabupaten Karawang, Cirebon, Kota Tasikmalaya, Depok, dan Bekasi. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap kepastian terkait pembelajaran tatap muka. “Dengan faktor-faktor seperti ini tentu pergerakan ekonomi juga menjadi lambat,” pungkasnya. (mg1/drx)
