Nilai Sakip dari A Jadi BB Ada apa dengan Pemkot Bandung?

Nilai Sakip dari A Jadi BB Ada apa dengan Pemkot Bandung?
TERIMA PENGHARGAAN: Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana menerima menerima hasil penilaianSAKIP dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo.
0 Komentar

BANDUNG – Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) melalui Kedeputian Bidang Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan menyerahkan hasil evaluasi atas penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Pemerintah Kota Bandung di Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (10/2). Kota Bandung meraih nilai SAKIP BB.

Wakil
Wali Kota Bandung, Yana Mulyana menerima hasil penilaian tersebut dari Menteri
PANRB, Tjahjo Kumulo. Penyerahan hasil evaluasi SAKIP di Batam ini untuk
pemerintah kabupaten/kota wilayah I, yang meliputi wilayah Aceh, Sumatra Utara,
Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan
Riau, Sumatra Selatan, Banten, dan Jawa Barat.

Menanggapi
hasil penilaian tersebut, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengatakan,
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berusaha melakukan reformasi birokrasi.
Karena reformasi birokrasi tujuan akhirnya adalah pelayanan prima kepada warga.

Baca Juga:Ciptakan Kompor Listrik Berdaya Rendah, Dinas ESDM Ingin Penggunaan Gas BerkurangWisatawan Tembus 60 Juta Orang

”Tentu
kita sebenarnya bukan mengejar nilai. Tujuan utamanya yaitu pencapaian
prioritas pembangunan melalui perencanaan dan penganggaran yang terintegrasi,
efektif, dan efisien,” kata Yana.  

Khusus
wilayah I di tahun 2019 masih terdapat 75 kabupaten/kota dengan predikat C dan
CC, 76 kabupaten/kota berpredikat B, 21 kabupaten/kota berpredikat BB dan dua
kabupaten/kota berpredikat A. 

Sementara itu, Kepala Inspektorat Kota Bandung, Fajar Kurniawan mengakui, nilai SAKIP Kota Bandung mengalami penurunan. Hal itu terjadi karena terdapat peningkatan standar penilaian SAKIP. Penilaian mengikuti masyarakat sejalan dengan peningkatan pelaksanaan reformasi birokrasi yang dinamis.

”Tahun
lalu belum secara tegas menerapkan sistem penilaian atas cascading dan cross
cutting. Secara teknis Kota Bandung telah memiliki potensi besar antara lain
system perencanaan dan keuangan yang telah terintegrasi melalui SIRA, Simda,
Sistem informasi evaluasi sakip melalui SILAKIP, Sitem Pengawasan APIP melalui
SiPeter,” katanya. 

Menurutnya,
semua aplikasi untuk memaksimalkan pelayanan publik. Namun demikian SAKIP harus
diselenggarakan menjadi Budaya Kinerja yg mengakar di seluruh OPD dan seluruh
tingkatan dari mulai OPD sampai Kelurahan bahkan sekolah-sekola.

Insyaallah untuk SAKIP 2020 kita akan
reborn menjadi A kembali,” ujarnya.

Fajar mengatakan, melalui aplikasi Sistem Pengawasan Terpadu (siPeter) ini Kota Bandung dinilai memiliki kelebihan inovasi dibandingkan daerah lain. (rls/ziz)

0 Komentar