oleh

Renovasi Pusdai untuk Dakwah Lebih Terbuka

Emil menuturkan, arsitektur gedung Pusdai merupakan karya gurunya yaitu arsitekur Slamet Wirasonjaya yang dibantu Ridwan saat dia menjadi mahasiswa akhir. Desainnya mengadopsi desain masjid Turki.

“Iya dulu saya masih ingat saya ikut mendesain Pusdai bersama almarhum Prof Slamet Wirasanjaya tahun 1994. Jadi banyak memori, tak terasa sekarang sudah 22 tahun Pusdai membawa kemaslahatan dakwah bagi umat Islam di Jawa Barat,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Dakwah Masjid (DKM) KH Choirul Anam menuturkan, Pusdai Jabar harus memiliki peran sebagai pusat dakwah atau Islamic Center di Jabar.

Dia mengakui, kondisi  Pusdai saat ini sangat memprihatinkan, Selain warna bangunan sudah pudar. Banyak bagian atap gedung sudah bocor di makan usia.

‘’Ini kalau dilihat cat temboknya sudah enggak tahu warnanya apa. Sebelum renovasi besar cat ini akan diprioritaskan, juga bagian yang sudah bocor atap-atapnya, untuk para pedagang dilingkungan sekitar Pusdai nanti mungkin bisa dilakukan penataan agar tertib”ujar dia.

Dia mengatakan, untuk membuat Pusdai Jabar terlihat baik, dibutuhkan anggaran sekitar Rp 7,8 miliar, di luar anggaran poliklinik. Dana pembangunan atau renovasi biasanya mereka dapat dari CSR maupun sumbangan pengusaha muslim.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Baca Juga