9 Rumah Sukanagara Resort Ambruk

9 Rumah Sukanagara Resort Ambruk
TANAH LABIL: Komplek perumahan Sukanegara yang dibangun pengembang mengalami ambruk secara tiba-tiba akibat hujan deras kemarin.
1 Komentar

SOREANG – Sebanyak sembilan rumah di Perumahan Sukanagara Resort di Desa Sukanagara Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung rusak akibat kondisi tanah yang labil dan mengakibatkan tlongsor pada Minggu (28/10).

Meski tak menimbulkan korban jiwa, namun kerugian akibat kejadian tersebut mencapai miliaran rupiah. Berdasarkan pantauan lapangan, sebanyak Sembilan unit rumah rusak dengan rincian tiga unit ambruk rata dengan tanah dan enam unit lainnya rusak parah.

Ambruknya rumah tersebut diduga akibat labilnya tanah. Sebab kawasan perumahan elit iey berada tepat diatas bukit. Bahkan, dilokasi sangat minim tegakan pohon sebagai penahan erosi.

Baca Juga:Jumlah TPS Meningkat Dua Kali LipatDana Bencana Terserap Tahun Depan

“Kejadiannya kemarin sore saat hujan deras. tak lama setelah hujan berhenti tiba tiba terdengar suara bergemuruh dan beberapa rumah itu ambruk,”kata Agus Herman salah seorang warga Kampung Buminagara yang tinggal berdekatan, kepada wartawan kemarin (29/10).

Menurutnya, selama ini perumahaan yang dimulai pembangunannya sejak lima tahun lalu itu, sebagian besar dalam keadaan kosong tanpa penghuni. Sehingga, ketika kejadian longsor tak menimbulkan korban jiwa.

“Kalau tidak salah disana itu sudah ada sekitar 70 rumah, yang sudah dihuni hanya beberapa rumah saja. Untungnya yang rubuh karena longsor itu rumah kosong,kata dia.

Agus mengungkapkan, sebetulnya sebelum rumah itu ada, daerah tersebut sering terjadi longsor meski dalam intesitas kecil. Sehingga, ketika sekarang ada bangunan maka wajar saja jika tanah tidak kuat menahan beban.

Salah seorang tokoh masyarakat Kampung Buniagung Desa Sukanagara, Wawan Maryana mengatakan, kejadian longsor di perumahan Bukit Sukanagara Resort sudah bisa diduga. Sebab, rumah-rumah disana dibangun diatas lahan dengan kemiringan lebih dari 30 derajat. Bahkan, pepohonan tegakan yang berfungsi sebagai resapan dan penahan erosi dibabat habis oleh pengembang.

“Bayangkan saja, pondasi bangunan didirikan diatas tanah urugan tidak sampai ke tanah keras yang ada dibawahnya. Pepohonan disana juga habis ditebang dan lahan diurug diratakan. Nah saat hujan tiba wajar saja kalau longsor,”kata Wawan.

Wawan yang akrab disapa Bah Cekro mengatakan, sejak awal pembangunan perumahan tersebut, warga di Kampung Buniagung belum pernah mendapat sosialisasi mengenai pembangunan rumah itu. Bahkan, warga juga tidak berani membangun rumah di atas bukit itu.

1 Komentar