Rizal: Proses Politik Mulai Tidak Sportif

Rizal: Proses Politik Mulai Tidak Sportif
DOK/ISTIMEWA
BERI PEMAPARAN: Rizal Ramli saat rapat dengan Pansus Pelindo II di Gedung DPR RI Kamis (29/10/2015). Dia memaparkan perjanjian berakhir 27 Maret 2019 tetapi kenyataannya telah diperpanjang pada 2014. Rizal menyatakan RJ Lino telah melanggar pasal 27 peraturan Menteri BUMN no: PER-06/MBU/2011 tentang pedoman pendayagunaan aktiva tetap BUMN.
0 Komentar

BANDUNG – Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) Mantan Menteri Koordinator bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli menyebutkan proses politik di Indonesia tidak sportif.

Hal tersebut disampaikannya, usai menjadi pemateri di kegiatan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pasundan (Unpas).

Rizal mengatakan proses politik di Indonesia tidak memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat, hal itu dapat dibuktikan dengan maraknya isu-isu negatif yang di mainkan oleh kedua belah pihak, baik dari kubu Calon Presiden petahana Jokowi maupun kubu Calon Presiden oposisi Prabowo Subianto.

Baca Juga:HMI Ciamis Minta Kenaikan Tarif PDAM DitundaCijagra Punya Solusi Tangani Sampah

”Hari ini proses politik kita ini, buat bangsa kita tidak sportif, karena kerjanya cuma meledek pihak lawannya, modal buzzer doang,” ucapnya, di Jalan Tamansari, Kota Bandung, kemarin (31/8).

Rizal mengungkapkan, hal tersebut tentunya bertolakbelakang dengan keinginan masyarakat Indonesia. Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini sudah cerdas dan menginginkan para calon pemimpinnya beradu gagasan yang baik buat bangsa bukan saling menjatuhkan dengan isu-isu yang bermuatan provokatif.

”Padahal rakyat kita inginkan itu, politik yang baik adu gagasan yang bagus dari para pemimpin, kita ingin bangsa kita belajar, kompetisi gagasan, visi, apa sih rencananya untuk pendidikan, ekonomi, pembangunan, bukan pencitraan doang dan menjatuhkan satu samalain,” ungkapnya.

Selanjutnya, Rizal mengharapkan para calon pemimpin bangsa seyogyanya belajar dari tokoh-tokoh bangsa terdahulu ketika berbeda pandangan.

”Dulu menjelang kemerdekaan tokoh-tokoh bangsa itu, debatnya keras, tapi debat gagasan, bukan caci maki, itulah yang membuat bangsa kita besar,” pungkasnya. (aga/ign)

0 Komentar