”Saya merasakan banyak berkah saat menjadi guru, meski memang penghasilan yang didapat tak lebih banyak dari sebelumnya, tapi selalu ada kecukupan,” katanya.
Keberkahan pun perlahan dirasakan Rudi setelah terdaftar sebagai guru honorer pada tahun 2006. Dia mendapatkan slot peningkatan kompetensi guru yang saat itu dilaksanakan dalam lingkupan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Dia pun menyelesaikan pendidikan Sarjananya pada tahun 2008 di Unjani, Jurusan Teknik Elektro. Tak lama setelah lulus, dia kemudian diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan mengajar di SMKN 1 Cimahi sampai sekarang. Dan di 2015, Rudi menyelesaikan studi Magisternya di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prodi Pendidikan Teknologi Kejuruan.
Peppermint, Metode Pembelajaran berbasis Teknologi
Dalam Best Practice yang ia paparkan saat proses seleksi, Rudi mengangkat metode PEPPERMINT sebagai metode pembelajaran yang dia aplikasikan di sekolah.
Baca Juga:Luncurkan ATM BerasCegah Radikalisme Melalui Diklatsar Banser
Peppermint merupakan akronim dari tahap proses pembelajaran yang diterapkan, yakni Plan (perencanaan), Explore (Pengetahuan), Practice (pengerjaan), Perform (penyajian), Enquiry (pencarian) dan Reflect (evaluasi), Memorize (penghafalan) dan INT (Internet) sebagai sumber daya pembelajaran.
Rudi menerangkan ada tiga keunggulan yang didapat ketika menerapkan metode ini. Di antaranya, pembiasaan bagi siswa memahami kultur dunia industri dengan disimulasikan berada dalam dunia induustri di pelajaran, penguasaan kompetensi kerja dan pengintegrasian Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Salah satu siswa Teknik Komputer Jaringan SMKN 1 Cimahi, Yandi Rizky Nugraha mengatakan, dengan metode ini, dia bisa lebih mandiri dan bisa mengeluarkan kreativitas dalam pembelajaran. ”Dan penyampaian dari Pak Rudi juga mudah dipahami,” ucap Yandi.
Pelibatan Teknologi
Pengembangan industri, dari hari ke hari selalu meningkat pesan dan tak pernah stagnan. Maka dari itu, Rudi menilai, guru harus mampu mengimbangi pendidikan di sekolah dengan tuntutan industri. Itulah yang menjadi alasan Rudi untuk memberdayakan teknologi dalam mata pelajarannya, yaitu mengenakan ponsel pintar yang dimiliki oleh siswanya. ”Generasi sekarang mudah memahami hal baru dalam bidang teknologi, maka saya manfaatkan itu sebagai sarana pembelajaran,” jelas guru kelahiran Garut tersebut.
Lewat metode PEPPERMINT juga, siswa akan dipaksa menggunakan ponsel pintar mereka untuk belajar dan mengurangi waktu mereka bermain gim dan media sosial, karena sistem pembelajaran yang Rudi terapkan adalah sistem daring. Sehingga kewajiban mereka sebagai pelajar bisa terlaksanakan.
