BANJARAN – Pasangan suami istri Jajang Sopian, 34, dan Sri Sulastri, 28, beserta anak bayinya terpaksa meninggalkan kediamannya setelah diding bagian rumahnya mengalami retak-ratak akibat pergerakan tanah.
Rumah yang beralamat di RT 03/10 Kampung Cipeundeuy, Desa Tarajusari, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung ini.
khawatir rumahnya amblas dan terbawa banjir saat hujan deras.
Jajang mengatakan, kondisi tanah di bagian belakang rumah amblas hingga 2 meter lebih, dengan panjang mencapai 50 meter lebih karena arus sungai yang terus mengikis tanah.
Baca Juga:Dewan Desak PT PMgS untuk DiauditPemkab Alokasikan Rp 6 Miliar untuk Citarum
Masalah ini terjadi setelah dilakukan sodetan atau pengerukan sungai Cisangkuy yang berada tepat di belakang rumahnya pada Desember lalu. Sehingga, rumah yang baru sebulan didiami terpaksa ditinggal mengungsi.
’’Khawatir takut ngagolosor (amblas, red) kalau malam-malam banjir gimana. Apalagi saya punya anak bayi, jadi was-was tiap malam,’’ kata Jajang.
Tidak hanya rumah Sri, akibat sodetan tersebut tembok pembatas milik tetangganya Samsudin, 52, ikut amblas ke sungai.
“Kejadiannya amblas sudah sebulan lalu. Awalnya ada tanah sekitar 3 meteran di belakang rumah. Tapi sekarang sudah enggak ada, amblas semua setelah ada sodetan dilakukan sebulan lalu,” tutur Samsudin.
Kegiatan sodetan sendiri, kata Samsudin dilakukan oleh petugas Dinas Bina Marga dan PUPR Kabupaten Bandung pada Desember lalu. Untuk normalisasi sungai Cisangkuy sebagai pencegahan banjir di wilayah tersebut.
Samsudin dan kedua tetangganya berharap agar dinas terkait segera memperbaiki aliran sungai tersebut. Dengan memasang bronjong sebagai penahan tanah, agar tidak kembali terjadi amblas dan memakan korban.
“Harapannya segera diperbaiki saja, soalnya di lokasi lain juga sudah dipasang bronjong kenapa disini belum juga dipasang, udah satu bulan. Kasian tetangga saya sampai ninggalin rumah dan ngontrak dulu karena takut terjadi apa-apa,” kata Samsudin (rus/yan)
