Pemeriksaan X-ray berjalan mulus. Lantas, petugas yang membawa paspor saya meneriakkan nama saya. Saya mendatanginya. Dia minta saya membawa koper saya ke lokasi X-ray.
Deg! Jantung saya rasanya mau copot. Apalagi, turis lain hanya bisa menatap saya dalam diam. ”Ah, hanya random checking biasa,” harap saya.
Setelah koper saya ada di hadapan petugas perempuan itu, dia memerintahkan untuk membuka. Sekali lagi dia bertanya, apakah saya paham bahasa Inggris. Saya jawab iya.
Baca Juga:Pengguna Transportasi Umum MeningkatPDIP Sudah Siap Berkompromi
Dia pun berusaha memastikan apakah semua barang di dalam koper itu milik saya. ”Nobody ask you to bring their things? Anything?” katanya.
Saya pun menjawab ”tidak” dengan mantap. Dia lantas memeriksa barang-barang di dalam koper. Termasuk Alkitab. Petugas itu membolak-balik lembaran Alkitab yang saya bawa. Sekitar 10 menit kemudian, petugas itu mengucapkan empat kata yang membuat saya lega. ”Okay. You can go,” ucapnya.
Betapa leganya saya. Pemeriksaan koper acak dan wawancara singkat nan menegangkan berakhir juga. Setelah itu, saya melanjutkan langkah saya ke bagian pemeriksaan paspor yang letaknya berseberangan dengan bagian X-ray.
Saya antre di belakang turis lain. Satu per satu mereka maju. Ternyata, petugas di konter juga rewel. Dia menanyakan identitas semua turis yang bisa berbahasa Inggris. Termasuk saya.
Nama lengkap, nama ayah, nama ibu, ditanyakan. Saat saya jawab, petugas itu rupanya tidak terlalu mendengar. Saya pun mengulanginya, lebih keras.
Namun, lelaki berwajah judes itu mengaku tak bisa mendengar suara saya. Saya pun mengulangi lagi nama saya dengan berteriak. ”Ah. I still cannot hear you,” katanya seraya menyerahkan paspor saya yang sudah dia sisipi kartu izin seukuran KTP.
Saya pun mengambil paspor saya, balik kanan sambil nyengir. Dalam hati, saya berkata, ”Sekarepmu, Pak.”
Baca Juga:Tusuk Driver Gojek Gara-gara ParkirSeribu Barista Hadir di Gesat
Setelah dua kali dijudesi dan dipelototi dua petugas imigrasi Israel, satu perempuan dan satu laki-laki, saya pun melenggang santai ke pemeriksaan terakhir. Yakni, pemeriksaan ulang paspor dan capnya.
Kali ini, 3 petugas, 2 lelaki dan 1 perempuan, memeriksa dokumen saya dengan santai. Si petugas perempuan membuka lembaran-lembaran paspor saya sambil tersenyum. Lancar.
