Sebagai salah satu festival film tertua di Indonesia, FFD ingin audiens membaca film dari perspektif yang berbeda. Nama-nama seperti Ronny Agustinus yang dikenal sebagai penerjemah dan pendiri Ruang Rupa serta Anna Har, direktur Freedom Film Festival, didapuk sebagi juri di kategori film panjang dokumenter. ”Kami ingin memberikan wawasan bahwa film nggak melulu dibaca lewat kacamata sineas. Tetapi, lewat kacamata penulis ternyata juga memiliki hal menarik tersendiri sehingga sudut pandang festival ini menjadi sangat beragam,” ungkap Aulia.
FFD menjadi penanda bahwa Indonesia memiliki nilai tawar di mata sinema dunia. (rno/c25/dhs)
