Cari lewat Wangsit, Bangun dengan Dana Desa

Cari lewat Wangsit, Bangun dengan Dana Desa
TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS
SUMBER AIR: Kastaman (kanan) menunjukkan tebing tempat penemuan mata air di Gunung Gentong, kawasan Bromo Tengger Semeru, beberapa waktu lalu.
0 Komentar

Pipanisasi tersebut tuntas dalam waktu kurang dari setahun. Menghabiskan dana Rp 306 juta. Masing-masing (dua desa) menyumbangkan jatah dana desa mereka dan mengerahkan warganya. Selama pembangunan, 100 hingga 250 warga desa datang ke lereng Teletubbies tiap hari untuk memberikan tangan mereka.

Bagaikan kisah pencarian Tirta Amertha, akhir 2015 Kastaman stres karena baru saja diangkat menjadi Kades Ngadas. Dia merasa tidak punya uang dan kemampuan untuk naik ke pucuk pimpinan desa. Apalagi desa yang tengah dilanda kekurangan air. Kermat, kolega Kastaman sesama kepala desa, menuturkan bahwa warga biasanya turun ke dasar-dasar jurang untuk menemukan air.

Itu pun kadang cuma dapat segayung dua gayung. Kalau musim kemarau, di dasar jurang pun air semakin susah ditemui. Warga sudah jarang mandi. ”Kita kalau mau buang hajat, pergi ke ladang, bawa cangkul,” kenang Kades Jetak itu. Kermat dan Kastaman pun sepakat untuk menempuh tirakat demi mendapat petunjuk Yang Kuasa.

Baca Juga:Mousse Perancis Hadir di GH UniversalPijat Sehat Bandung Juara Berdayakan Disabilitas

Kastaman semakin sulit tidur dan sulit kerasan di rumah. Desakan untuk menemukan mata air bagi warganya terus menguat. Kastaman kemudian hilir mudik keluar masuk hutan. Menyusuri ceruk-ceruk dan ketiak Pegunungan Bromo. Hampir setiap hari. Berangkat gelap pulang petang. Kadang sampai bermalam.

Sementara itu, permintaan wangsit terus dipanjatkan, sesuai prosedur dan adat Tengger. Bayangan apa pun yang didapatnya dia bawa ke hutan untuk menyisir setiap jengkal tanah. Mencari titik air berkumpul. Juni 2016, suatu siang, Kastaman yang kelelahan sehigga tertidur di bawah pohon. Dia bermimpi didatangi salah seorang tokoh leluhur suku Tengger, Joko Kuncung, sang penjaga air.

Le, kok soro-soro nggolek banyu, neng umayang ono banyu, sana parani nang Genthong,” kata Kastaman menirukan bisikan itu. Artinya, ”Nak, kenapa susah-susah cari air, di tempatku ada air. Sana pergi ke Gentong!” Kastaman segera merespons sasmita gaib yang diterimanya. Menurut petunjuk Eyang Kuncung, ada dua mata air di Gentong. Satu di atas, mengalir kecil, tapi bisa mencukupi kebutuhan. Satu di bawah, banyak, menggenang, tapi agak keruh.

0 Komentar