Rumah tanpa Listrik Berdinding Kayu

Kampung Tirang
DIAR CANDRA/JAWA POSBANYAK DIKUNJUNGI: Nelayan di sekitar kampung Tirang saat ini tidak hanya mencari ikan tapi juga mengantar wisatawan.
0 Komentar

Air tawar bersih juga termasuk barang mewah. Satu jeriken berkapasitas 35 liter itu bisa ditebus di Kampung Jongor seharga Rp 2 ribu. Kalau air bersih ingin diantar sampai depan rumah mereka di Kampung Tirang, biayanya berlipat jadi Rp 5 ribu.

Karena itulah, hujan yang mulai mengguyur Tegal pekan lalu disambut penuh sukacita layaknya petani merayakan panen. Air hujan ditadah dan ditimbun dalam tong-tong besar. Ketersediaan air hujan tersebut membuat warga bisa mandi dengan segar.

Ya, kalau tak ada air hujan ini, biasanya mereka mandi dengan air asin. Hasil menimba sumur yang mereka punyai di belakang rumah. ”Sudah biasa sih. Memang badannya agak pliket (lengket). Tapi bagaimana lagi?” kata Toipah, ibu Bagus.

Baca Juga:Hari Ini, Parpol DiverifikasiKorban Agus Terprovokasi Buronan

Selasa lalu (26/9) Radar Tegal mengunjungi rumah-rumah lain di Kampung Tirang. Sama seperti Dul Wahid, Warsinah juga termasuk penghuni awal Kampung Tirang.

Warsinah ingat, sejak 2002 dirinya sudah ada di Kampung Tirang. Kalau Dul Wahid tinggal di rumah paling utara, kediaman Warsinah paling selatan. Di halaman rumah Warsinah ada ikon lain dari film Turah. Yakni pohon jambu biji tempat menggantung tokoh pemberontak Jadag.

Ternyata, ada kesamaan nama salah seorang warga Kampung Tirang dengan judul film garapan Fourcolours tersebut. Ya, salah seorang anak Warsinah bernama Turah. Rumah Turah ada di sisi utara Warsinah. Soal judul film yang sama dengan namanya itu, Turah bangga. Turah bahkan tak pernah tahu bahwa film berdurasi 83 menit tersebut akan diberi judul sama dengan dirinya. (*/c9/oki/rie)

0 Komentar