Setiap pemimpin negara yang berkunjung ke Indonesia datang dengan kepentingannya masing-masing. Termasuk yang terakhir, kunjungan Raja Salman bin Abdulazis Al Saud. Berikut perbandingannya.
MULAI tahun ini, Indonesia lebih mudah untuk mengekspor produk-produk kayu ke eropa via Belanda. Kayu Indonesia sudah dilengkapi dengan sertifikat dari Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SLVK). Dengan sertfikat itu, Uni Eropa memberikan lisensi Forest Law Enforcement Government and Trade (FLEGT). Sehingga, kayu Indonesia tidak perlu diperiksa di setiap pelabuhan.
Dampak pemberian lisensi FLEGT itu dibicarakan Presiden Joko Widodo saat bertemu Perdana Menteri Belanda Mark Rutte 23 November lalu di Istana Merdeka. Dengan lisensi itu, Indonesia berkesempatan mengekpor lebih banyak produk kayu ke Belanda. Kondisi tersebut berpeluang meningkatkan volume perdagangan kedua negara, yang pada 2016 lalu sudah mencapai USD 3,2 miliar.
Baca Juga:500 Rumah Terendam Banjir di PasehUmuh Ungkap Penyebab Kegagalan Persib Lolos ke Final
Kedatangan Rutte ke Indonesia tidak sebatas kunjungan kenegaraan semata. Dia membawa serta 200 pengusaha dan tenaga ahli ke Indonesia. Rutte juga menjalin kerjasama dengan sejumlah kepala daerah untuk membangun sistem pencegahan banjir dan tata kelola air. Masing-masing dengan Wali Kota Semarang dan Bupati Demak.
Banyaknya rombongan yang dibawa Rutte pun mendapat apresiasi Presiden Jokowi. ’’Ini menunjukkan kepercayaan, sebuah trust pada Indonesia dalam hal investasi,’’ ujar Jokowi usai pertemuan bilateral. Itu menunjukkan Belanda punya komitmen untuk memperkuat hubungan dengan Indonesia.
Di luar itu, Rutte mewakili pemerintah Belanda menyumbangkan 1.500 benda budaya yang sebelumnya menjadi koleksi museum Nusantara di Delft, Belanda. Museum itu ditutup beberapa bulan jelang kunjungan Rutte ke Indonesia.
Pemimpin lain yang mengunjungi Indonesia dalah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Sedikit berbeda dengan Rutte, Jokowi menyambut Abe di Istana Bogor pada 15 Januari lalu. Kehadiran Abe cukup Istimewa, karena Jepang merupakan salah satu investor utama di Indonesia.
Dan memang, dalam kunjungannya, Abe sepakat untuk mengajukan kembali proposal pembangunan infrastruktur perkeretaapian untuk jalur Jakarta Surabaya. Jepang saat ini sedang mempertimbangkan apakah akan mengajukan kereta semicepat (180-200 km/jam) atau kereta cepat (250-300 km/jam).
Begitu pula dengan pembangunan pelabuhan Patimban. ’’Patimban kami minta dibangun paling lambat awal 2018 dan mulai dioperasikan secara bertahap awal 2019,’’ terang Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Di luar itu, Indonesia juga berkesempatan mengekspor lebih banyak produk perikanan dan pertanian ke Jepang.
