Menurut Eti, kelompoknya merencanakan diri untuk memproduksi kopi organik, dengan hanya menggunakan pupuk prganik untuk memupuk pohon kopinya. Hal ini disebabkan banyaknya permintaan akan kopi organik, juga harga yang lebih tinggi.
”Kami terus mendapat bantuan benih dari pemerintah, awalnya dapat 2 ribu, 3 ribu, 5 ribu, 10 ribu, dan tahun ini dapat 100 ribu. Baru tiga tahun Wanoja Coffee ini berdiri, tapi sudah bisa berlari cepat. Kami khawatir terjatuh, makanya menjaga terus stabilitas kelompok kami,” paparnya. (yul/ign)
