Setelah beberapa lama kami berhenti di depan TV, kereta KTX yang akan membawa kami ke Busan pun tiba. Perhatian kami pun pindah di dalam kereta komuter tersebut. Ternyata, pembicaraan sebagian penumpang masih seputar kasus presidennya.
Min-ng Cheong, warga Seoul yang duduk bersebelahan dengan kami, menceritakan panjang lebar tentang kondisi politik negaranya. Menurut dia, pemakzulan atas Park oleh Parlemen Korsel merupakan langkah politik yang tepat. Keputusan yang sangat dinanti mayoritas warga berpenduduk sekitar 51 juta jiwa itu. Sebab, tindakan Park selama ini dianggap telah mencederai kepercayaan rakyat.
Seperti diketahui, Parlemen Korsel memakzulkan Presiden Park Geun-hye yang dinilai telah melakukan tindakan menyalahgunakan kekuasaan. Dengan kekuasaannya, Park memberikan fasilitas kepada teman perempuannya untuk memperkaya diri. Kasus itu akhirnya terbongkar. Rakyat pun bergejolak.
Baca Juga:Pemerintah Belum Serius Tindak WNA IlegalWelcome Back Persebaya
”Mayoritas masyarakat (Korsel) ingin presiden cepat turun,” kata Cheong. Menurut pria berusia 34 tahun itu, rakyat Korsel telah kehilangan kepercayaan kepada Park. Presiden perempuan pertama sepanjang sejarah negara tersebut dinilai sudah menyalahgunakan kepercayaan yang selama ini diberikan. Tak heran jika rakyat terus memantau perkembangan kasus Park.
Meski kecewa atas kasus yang membelit Park, warga Korsel tetap menaruh hormat kepada presiden yang berkuasa sejak Februari 2013 itu. Hal tersebut ditunjukkan dengan aksi demonstrasi yang tidak berlebihan. Masyarakat menghormati setiap proses yang tengah berlangsung. Bersabar menunggu putusan yang akan dikeluarkan Mahkamah Konstitusi (MK) Korsel terkait pemakzulan itu.
”Yang penting, dari sekarang sampai enam bulan ke depan presiden tidak berhak lagi memerintah. Tetap jadi presiden, tapi seperti bukan presiden lagi,” jelas Cheong serius.
Tak hanya aktif mengikuti perkembangan berita melalui TV, ada juga warga Korsel yang mengekspresikan jatuhnya Presiden Park dengan berpesta. Baik di rumah maupun di restoran dan kafe. Bahkan, ada di antara mereka yang melangsungkannya seminggu beturut-turut. Cara itu dinilai lebih elok daripada melakukan tindakan yang justru merugikan nama baik negara.
”Setelah selesai dengan demo-demo di jalan, sekarang mereka ganti merayakannya di rumah-rumah atau restoran. Biar kehidupan mereka tetap berjalan normal seperti biasa,” ujar General Manager BNI Cabang Seoul Wan Andi Aryati ketika kami jumpai di kantornya.
