”Tahun lalu, realisasinya Rp 3 triliun. Namun tahun ini naik jadi Rp 3,61 triliun. Kebutuhannya meningkat 20,2 persen disbanding tahun lalu,” ujar Mika.
Menurut dia, peningkatan kebutuhan uang tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya faktor musiman yaitu meningkatnya permintaan kebutuhan uang kartal untuk perayaan natal dan tahun baru di akhir tahun dan pemenuhan kebutuhan rutin perbankan seperti gaji bulanan. Selain itu, pada periode akhir tahun, juga direncanakan akan direalisasikan dana kas di pemerintah daerah dalam rangka realisasi penyerapan anggaran di tahun 2016.
Lebih lanjut dia menambahkan, peluncuran pecahan uang emisi baru ini tidak akan berdampak terhadap inflasi. Sebab, menurut dia, inflasi terjadi karena kebutuhan masyarakat yang meningkat jelang hari-hari besar seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. (fik)
