Merasa Terancam di Atas dan Bawah

apartemen
ABDUL ROKHIM/JAWAPOS
TAK TERJANGKAU: Tawaran penjualan apartemen dengan harga yang termasuk mahal di pusat Kota Tel Aviv, Kamis (31/3)
0 Komentar

Kehidupan yang dibayang-bayangi malaikat maut itu membuat Hila dan hampir sebagian besar warga Netiv Ha’asara jengah dengan peperangan kedua kubu. ”Kami perlu beristirahat dari perang. Kami rindu berkunjung ke teman kami di Palestina. Sampai awal konflik, mereka masih telepon apakah kami selamat? Sekarang dan ini sudah berjalan 20 tahun, telepon itu tidak ada lagi,” katanya.

Dengan semua kengerian tersebut, mengusulkan ide pindah ke lokasi yang aman dan terlindungi di wilayah Israel lain kepada Hila dan semua warga Netiv Ha’asara bukanlah ide bagus. Mereka hanya membalas dengan tatapan aneh. ”Itu sulit kami terima. Mereka (Hamas) ingin kami pergi dan kami pergi. Itu tetap selalu pilihan yang lebih buruk daripada apa pun,” ujarnya dengan ketus.

Lalu, perjalanan berlanjut ke utara hingga ke kota terbesar, Tel Aviv. Jawa Pos mencoba menanyakan apa yang terjadi di Netiv Ha’asara kepada saudara-saudara sebangsanya. Rata-rata mau mendengar. Namun, saat ditanya apakah itu yang menjadi perhatian utama? Tidak. Warga Tel Aviv bagaikan makhluk planet lain bagi Netiv Ha’asara.

Baca Juga:Empat Film Indonesia Keren di Bulan April iniKPK Kaji Data Panama Papers

Warga Tel Aviv merasa punya masalah yang lebih besar daripada desa-desa di dekat perbatasan seperti Netiv Ha’asara. ”Jika mereka khawatir dengan penculikan oleh Hamas dari dalam bumi, kami juga punya masalah yang tidak kalah besar di atas bumi,” ungkap Shai, seorang warga Tel Aviv, yang sedang joging di pantai Laut Mediterania di belakang Hotel Herods, tempat Jawa Pos menginap.

Apa masalah terbesar warga Tel Aviv di atas bumi itu? Harga rumah dan apartemen yang terus melonjak dan semakin tidak terjangkau warga biasa. Sekarang dengan pendapatan minimal per bulan USD 1.250 atau sekitar Rp 16,5 juta, seorang karyawan biasa tidak bisa lagi membayar uang sewa apartemen dengan tiga kamar di Tel Aviv. Harga sewa apartemen semacam itu bisa menelan dua pertiga gaji si karyawan.

”Kami di sini (Tel Aviv) tak pernah lagi memikirkan konflik dengan Palestina. Sebab, kami selalu khawatir berapa harga sewa rumah dan apartemen kami tahun depan?” ungkap Oren Rozenblat, deputy spokesperson press bureau Ministry of Foreign Affairs, saat menemani Jawa Pos menyusuri permukiman-permukiman di Tel Aviv Kamis siang (31/3).

0 Komentar