Khamdani pun Belum Bisa Melupakan Kemanjaan Rini

Taman Nasional Way Kambas
JAWAPOS
SANGAT AKRAB: Salah seorang pawang tampak menggiring kawanan gajah memasuki danau buatan untuk memandikan gajah jelang patroli
0 Komentar

Setiap pagi seluruh gajah membersihkan tubuh layaknya manusia bersama pawang masing-masing. Satu per satu pawang bergilir mendatangi kandang, melepaskan rantai, dan membawa asuhan masing-masing ke bak minum yang berukuran sekitar 4×5 meter.

Berkeliling sebentar, kemudian gajah diajak mandi di kolam yang mirip danau mini. Kamis pagi tiga pekan lalu (7/1), bersama dengan para pawang lain, dengan penuh kasih sayang Mahfud membawa mereka menyelam ke kolam hingga hanya terlihat setengah kepalanya.

Dengan tepukan tangan di atas kepala dan bahasa gumaman, para gajah itu manut. Sesekali air pun disemburkan oleh belalainya. Saat gajah menunduk, Mahfud menggosok punggung, dari satu gajah ke gajah lain secara bergilir.

Baca Juga:Laga Sulit untuk BarcaKorban Umumnya Warga Kabupaten

Tak lebih dari sepuluh menit, kaki-kaki raksasa tersebut melangkah keluar dari sungai. Segar. Mereka pun siap digembalakan. ”Bagi kami, menjadi pawang adalah panggilan hidup. Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga mereka?” ungkapnya.

Sebagaimana relasi sesama manusia, kesehatian para pawang dengan gajah tentu saja tidak datang dengan tiba-tiba. Bahkan, datangnya juga tidak mudah. Awalnya, mereka mesti jadi helper (semacam asisten pawang) dulu.

Lamanya tidak tentu, bisa tiga bulan sampai satu tahun. Bahkan, ketika sudah naik pangkat menjadi pawang pun, tantangan masih menghadang. Pada hari-hari pertama, hampir semua pawang baru pasti mendapat ”kenang-kenangan” dari gajah yang akan dirawat. Entah itu ditendang atau diseruduk.

Butuh waktu setidaknya tiga bulan untuk masa penjajakan. ”Seperti pacaran, harus pedekate, saling mengerti dan memahami,” papar Mahfud.

Nah, ketika chemistry sudah terbangun, baru kesepahaman kedua pihak terbangun. Bukan hanya si pawang yang memahami benar karakter si gajah, si gajah pun memahami suasana hati si pawang. Misalnya, ketika si pawang sedih, ia akan berusaha menghibur. ”Contohnya, belalai sesekali disapukan ke kaki pawang saat berada di atas punggungnya,” kata Mahfud.

Kedekatan seperti itulah yang membuat Khamdani belum sepenuhnya bisa melupakan Rini. Kamis itu matanya kembali berkaca-kaca ketika mengenang gajah yang dirawatnya 21 tahun yang meninggal tahun lalu tersebut.

Rini menutup mata selamanya gara-gara tumor. ”Berat tumor di pangkal ekor sampai 3 kg,” kenang pria berusia 41 tahun yang kini merawat gajah lain bernama Sugeng itu.

0 Komentar