oleh

Kereta Cepat Picu Konflik Sosial

”Yang saya takutkan, itu malah tidak terserap. Makanya pemkab harus bisa menyuarakan persoalan ini ke pelaksana proyek,” ujar dia.

Terlebih, ada pengalaman tentang perusahaan asal Tiongkok yang tidak mengutamakan tenaga kerja lokal di beberapa proyek. Misalnya, pabrik semen di daerah Lebak, Provinsi Banten. Dalam pabrik ini, kata dia, ada sekitar 500 orang tenaga kerja asing yang dibawa oleh perusahaannya langsung dari Cina.

Sebelumnya, Kasi Perluasan dan Penempatan Tenaga Kerja Dinsosnakertrans KBB Sutrisno menyatakan, hingga saat ini tidak ada tenaga kerja asal Kabupaten Bandung Barat yang dlibatkan dalam pengerjaan mega proyek kereta cepat ini.

”Sejauh ini belum ada permintaan dari Direktur PT Kereta Cepat terhadap tenaga kerja di KBB. Harapan kami tentu ada tenaga kerja lokal yang ikut serta membangun proyek kereta cepat ini,” kata dia.

Menurut dia, potensi tenaga kerja dari Kabupaten Bandung Barat cukup banyak semisal lulusan teknik sipil yang bisa dilibatkan dalam proyek pembangunan. Kompetensi mereka pun, menurut dia, bisa diuji terlebih dahulu sebelum dilibatkan dalam kegiatan pembangunan tersebut.

Berbeda dengan proyek kereta cepat, pemanfaatan tenaga kerja terampil asal KBB telah diberdayakan dalam pembangunan PLTA Upper Cisokan. Sedikitnya 25 tenaga kerja akan dilibatkan dalam pembangunan pembangkit listrik untuk memasok kebutuhan listrik di Pulau Jawa dan Bali itu.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Baca Juga