Waspadai SPBU Nakal

[tie_list type=”minus”]Yang Lolos Lebih Dipercaya Konsumen[/tie_list]

bandungekspres.co.id– Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat mengancam akan memberikan sanksi tegas berupa penutupan bagi pengelola SPBU yang nakal. Tindakan nakal yang dimaksud salah satunya adalah dengan mengurangi jumlah bensin kepada konsumen.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Ferry Sofwan menegaskan, BBM bersubsidi merupakan fasilitas dari pemerintah kepada masyarakat.

”Hukuman bagi (SPBU) nakal itu penting. Harus ada efek jera. karen ini pelayanan, apalagi ini bersubsidi yang harus diawasi pemanfaatannya dan pelaksanaannya di lapangan,” ujarnya saat ditemui saat sidak SPBU, di Ranca Belut, Padasuka, Cimahi, kemarin (22/12).

Tindakan tersebut, kata dia, apalbila SPBU terbukti memanipulasi jumlah bensin untuk konsumen. Menyikapi hal itu, dia mengungkapkan beberapa langkah. Pertama, dilakukan secara persuasif dan memperbaiki alat SPBU. Kedua, jika masih bandel, akan dilaporkan ke pihak kepolisian untuk dipidanakan.

”Ya kalau masih bandel ya ditutup dan diberi pembinaan beberapa bulan, dan memeriksa ulang alat-alat spbu yang ada,” tegasnya.

Untuk mengetahui teknis SPBU yang nakal, pihaknya bersama dinas terkait dan balai meteorologi melakukan kegiatan pemantauan ke SPBU di daerah Jawa Barat. Contohnya, kemarin (22/12) pihaknya melakukan pemantauan ke sejumlah SPBU di Kota Cimahi. Adapun hal yang menjadi fokus pemantauan adalah yang berkaitan dengan pelayanan dan ketepatan atau akurasi pengisian bensin. ”Ya kami cek, apakah betul 1 liter yang diberikan kepada konsumen dikurangi atau tidak,” jelasnya.

Sejauh ini, dia mengaku, tidak menemukan aksi curang dari SPBU. Kalau pun berkurang, masih dalam batas toleransi. ”Bahan bakar kan menguap,” singkatnya.

Meski demikian, dia tetap mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan pengisian. Termasuk dimulai dari nol ketika mulai pengisian.

Dia mengaku, kerap melakukan pengujian tera ulang setahun sekali. Meski begitu, tetap ada kekhawatiran ada pengelola yang nakal, mengotak atik segel dan lain-lain.

”makanya kami kunjungi secara acak di beberapa tempat untuk mengecek dan memeriksa apakah sesuai ada yang tidak sesuai dengan ketentuan,” terangnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan