Dalam kontrak setahun itu, biasanya aktris yang bersangkuan membintangi empat film. Tiap film biasanya mengambil waktu syuting selama dua pekan.
”Mengapa kok lama? Sebab, kami juga harus melakukan tes kesehatan. Juga, si aktor butuh waktu untuk break dan mengonsumsi protein,” terang Steven Hirsch.
Menurut dia, para aktor yang dikontraknya juga harus menunjukkan kedisiplinan. ”Mulai kualitas sperma hingga vitalitas tubuh, mereka menjaganya sendiri,” tambahnya.
Baca Juga:Nikita Mirzani Heboh Tunjukkan Buah Dada di IGPelaku CP Diketahui Kerap Pakai Kecubung
Satu hal yang pasti, tegas Hirsch, pihaknya memberlakukan kontrol yang sangat ketat terhadap kesehatan. Pernah pada Oktober 2012 ada kabar salah seorang aktor yang disewanya terkena HIV/AIDS. Dia pun langsung menghentikan syuting.
”Kami akan telusuri jejaringnya. Dengan demikian, kami yakin semua benar-benar bebas penyakit,” tandasnya.
Para performer juga mengakui bahwa bekerja di industri film dewasa cukup berat. ”Pernah lihat syutingnya kan?” kata Aiden.
Yang dia maksud, menjalani syuting film dewasa bukan sekadar dua orang berhubungan intim dengan normal dan direkam. Tapi, ada proses penataan gaya dan pengulangan seperti dalam syuting film pada umumnya.
”Tapi, saya melakukannya demi uang. Kadang juga karena kesenangan. Tapi, sebaiknya demi dua-duanya,” ucap Aiden, lantas terbahak.
Lalu, di luar dunia ”XXX” yang digeluti, apakah para aktris dan aktor film dewasa juga punya keluarga? Atau, katakanlah kehidupan normal? Hirsch menyatakan, itu semua kembali kepada masing-masing performer.
Menurut dia, banyak bintang film dewasa yang bisa kembali menjalani kehidupan normal setelah tidak aktif lagi. Asia Carrera, contohnya.”Saya juga salah satu contohnya, hehehe,” ujar Hirsch.
Baca Juga:Batik Air Tergelincir 40 MeterAher: Persiapan Venue PON Jabar 85-90 Persen
Menurut pria yang bapaknya juga produsen film dewasa tersebut, dirinya menjalani hidup dengan baik-baik. ”Saya bersekolah, bermain, dan hidup dalam keluarga yang baik. Sama seperti anak yang lain,” imbuhnya.
Hanya, memang kadang-kadang ada sejumlah orang tua temannya di sekolah yang melarang dirinya kumpul dengan anak-anak mereka. ”Tapi, saya tak pernah mengambil hati dibegitukan. Biar saja, masing-masing orang punya pilihan hidup,” tandasnya.
Sementara itu, Aiden juga menjawab, ”Yang saya punya sekarang adalah para budak. Dan mereka pasti akan menuruti apa pun yang saya mau.”
