Ia menuturkan, seharusnya pihak sekolah berpikir ulang sebelum meminta bantuan kepada orangtua siswa dalam mewujukan pembangunan fasilitas sekolah. Sebab, kata Yayat, orangtua siswa tidak sepenuhnya mampu untuk mengeluarkan uang sebesar Rp 200 ribu. ”Jangan sampai dipukul rata bahwa semua orangtua siswa harus bayar. Pisahkan, mana orangtua yang benar-benar mampu, dan bantu orangtua siswa yang kurang mampu. Bukan malah harus bayar semuanya,” ungkapnya.
Sebelumnya, sejumlah orangtua siswa SMPN 1 Cililin mempertanyakan pungutan dari pihak sekolah yang meminta Rp 200 ribu per siswa. Salah satu orangtua siswa, Tardi Karmadi (bukan nama sebenarnya) mengungkapkan, pungutan itu beralasan untuk pembangunan kanopi dan taman sekolah. ”Kita mempertanyakan kenapa pembangunan taman sekolah harus meminta kepada siswa. Apalagi, paling lambat bayarnya bulan September mendatang,” kata Tardi.
Ia yang datang ke kantor pemda berencana untuk melaporkan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bandung Barat terkait pungutan tersebut. Dengan melaporkan, ia berharap pungutan tersebut dapat dihentikan. ”Pungutannya cukup besar dan memberatkan orangtua siswa. Hitung saja, satu orang diminta Rp200 ribu, jika dikalikan jumlah siswa yang saat ini di SMPN 1 Cililin mencapai 1.000 siswa lebih,” pungkasnya. (drx/fik)
Minta Copot Kepsek SMPN 1 Cililin

TERJADI PELANGGARAN: SMPN 1 Cililin dianggap melanggar karena memungut uang Rp 200 ribu kepada siswa untuk membangun taman dan kanopi.