oleh

Petaka Orientasi Siswa

[tie_list type=”minus”]SAR Bandung Temukan Korban MOS Tewas[/tie_list]

BANDUNG – Korban tewas masa orientasi siswa di Garut ditemukan kemarin (5/7). Tim SAR Bandung mendapatkan itu di lokasi yang sama ketika dia tenggelam. Yakni, Sungai Cimanuk Kampung Kerman, Garut pada pukul 08.43.

Korban adalah Fajrin Fauzi, 15, siswa SMK Al-Hikmah. Dia dilaporkan tenggelam saat mengikuti sesi penjelajahan medan, tenggelam pada Selasa (4/8) sekitar pukul 10.00. Upaya pencarian saat itu juga dilakukan penyelenggara, muspika, relawan dan masyarakat setempat.

Sedangkan Kantor SAR Bandung baru menerima informasi musibah sekitar pukul 13.00 dan langsung menggerakkan tim SAR ke lokasi. Sekitar pukul 15.00 tim tiba dan langsung berkoordinasi dan bergabung dengan unsur pencari di lapangan.

Hingga pukul 18.00 WIB di hari yang sama ketika hilang, pencarian tidak membuahkan hasil. Kegiatan dihentikan sementara untuk dilanjutkan keesokan hari. Pada Rabu (5/8), kegiatan mulai pukul 06.00.

Dengan melakukan penyisiran dari tempat kejadian musibah mengarah ke hulu. Menggunakan peralatan air dengan pola jangkar. Fajrin akhirnya ditemukan sekitar pukul 08.43.

Lokasi, menurut warga sekitar dan Arief Budiman selaku komandan Tim SAR Kantor Bandung, dikenal tenang pada permukaan. Tapi, terdapat pusaran arus yang cukup kuat di bawah. Diperkirakan saat kejadian, korban dan peserta yang lain yang diwajibkan melakukan penyeberangan, terseret pusaran tersebut.

’’Ironisnya, saat menyeberang, tidak satupun peserta yang menggunakan alat keselamatan,’’ kata Arief.

Dengan ditemukannya korban, kegiatan pencarian dinyatakan ditutup. Penyelenggara saat ini diamankan dan ditangani kepolisian setempat. Dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan mereka.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad kemarin mendatangi rumah duka di Desa Mangku Rakyat, Kecamatan Cilawu, Garut. ”Saat saya datang suasana di rumah duka masih ramai. Tetapi jenazah Fazri sudah dikubur,” katanya.

Hamid sangat menyayangkan kejadian ini. Dia menyesalkan kegiatan rangkaian MOS yang akhirnya berakibat fatal itu. ”Kita semua meyakini ini adalah kecelakaan. Tetapi seharusnya bisa dicegah,” katanya lagi.

Hamid menuturkan saat kegiatan tadabur alam ini tidak ada pendampingan guru maupun tenaga professional di bidang outbound.

Dia menjelaskan aturan Kemendikbud adalah MOS dilaksanakan di pekan pertama dengan durasi 3-5 hari saja. Seluruh kegiatan MOS dilakukan di dalam sekolah. Setelah itu tidak boleh ada lagi rangkaian-rangkaian kegaitan lainnya. Termasuk kegiatan kemah atau sejenisnya di dalam maupun di luar sekolah.

Setelah dari rumah duka, Hamid menyempatkan diri meluncur ke sekolahan Fazri. Namun di sekolahan sudah sepi. ”Guru dan kepala sekolah sedang menjalani pemeriksaan di kepolisian. Apakah ada unsur kelalaian,” paparnya. Hamid mengatakan sanksi administrasi hanya dinas pendidikan Garut yang berhak mengeluarkannya.

Kematian Fazri di Garut itu menambah daftar siswa baru yang meninggal di awal tahun ajaran 2015/2016. Sebelumnya Evan Christopher Situmorang, siswa baru SMP Flora Pondok Ungu Bekasi meninggal dunia diduga kelelahan setelah mengikuti MOS. Di akhir pelaksanaan MOS sebelum lebaran lalu, Evan dan kawan-kawannya disuruh berjalan kaki sepanjang 4 kilometer. Evan meninggal dengan keluhan kaki kram dan indikasi asam urat.

Kasus lainnya ada di Bintan, Kepulauan Riau. Dari Bintan dilaporkan Muhammad Arif, siswa SMPN 11 Bintan meninggal setelah dikeroyok teman-temannya. Dia diduga mengalami penganiayaan di tengah-tengah pelaksanaan MOS.

Pelaku pengeroyakan ini diduga adalah sesama siswa baru SMPN 11 Bintan. Sebelum meninggal Arif mengeluh kepada bapaknya bahwa perutnya sakit. (yul/wan/hen)

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga