[tie_list type=”minus”]Sepakati Jalan Damai[/tie_list]
JAKARTA – Sadar wilayahnya menjadi barometer daerah lain di Indonesia, Polda Metro Jaya melakukan upaya preventif untuk mencegah efek domino peristiwa Tolikora di Jakarta. Kemarin (21/7), Polda Metro Jaya dan mengundang ormas-ormas yang memiliki massa besar untuk berdiskusi. Dalam pertemuan tersebut, ormas dan aparat sepakat untuk tidak terpancing.
Dalam pertemuan tersebut, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian mengatakan, bersama Pangdam Jaya, pihaknya memberikan pemahaman terhadap peristiwa Tolikora. ’’Kalau tidak paham tentang yang terjadi sebenarnya, kemudian salah mengambil langkah,” terangnya usai acara.
Selain itu, Tito juga menegaskan bahwa proses hukum akan dilakukan pihak kepolisian. Siapapun pelakunya, polisi akan menegakkan hukum. Dengan pemahaman tersebut, Tito berharap ormas-ormas yang memiliki basis masa besar tersebut bisa menahan diri. ’’Tadi salah satu kesepakatannya adalah tidak terpancing,” imbuhnya.
Baca Juga:Laudya Cynthia Bella Khatam Ditanya Kapan NikahTabir Misteri Pembunuhan Sekeluarga di Karang Tunggal Terkuak
Sebagai upaya antisipasi, Kapolda juga akan meningkatkan keamanan di gereja-gereja yang ada di ibu kota. Hal itu dilakukan untuk mencegah peristiwa yang tidak diinginkan. Dia belajar dari peristiwa peledakan bom di gereja di tahun 2000. ’’Saat pelaku tertangkap, dia bilang membalas peristiwa lebaran di Ambon,” terangnya.
Dalam praktiknya, Polda akan menggandeng Kodam Jaya untuk menambah kekuatan personel.
Pangdam Jaya Mayor Jenderal Agus Suwanto mendukung upaya tersebut. Rencananya, tiga pleton prajurit akan disiapkan membantu pengamanan di Jakarta. Tak hanya itu, dia juga memerintahkan intelejen TNI untuk terus bergerak. ’’Kondisinya lagi riskan, jadi harus meningkatkan kewaspadaan,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan meminta masyarakat untuk bersikap dewasa dan tidak mudah terprovokasi. Sebab, upaya-upaya balas dendam akan merugikan bangsa Indonesia itu sendiri. ’’Karena perselisihan dan kehancuran yang akan membuat pihak asing dan kelompok tertentu tertawa,” terangnya.
Selain itu, Anton juga meminta peristiwa ini menjadi sarana meningkatkan kewaspadaan dan instrospeksi diri. Nilai-nilai luhur seperti Guyub, Gotong Royong, sopan dan toleran yang sudah diajarkan para pendahulu bangsa harus kembali dikuatkan. ’’Perlu direnungkan, apakah kita sudah berubah menjadi bangsa bar-bar?” imbuhnya.
