Tekanan Rupiah Kian Berat

[tie_list type=”minus”]Konsensus Perbankan Tembus Rp 14.000 [/tie_list]

JAKARTA – Krisis ekonomi yang tengah terjadi di Yunani hingga gonjang-ganjing isu reshuffle kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak berpengaruh signifikan terhadap ekonomi domestik.

Managing Director Head of Global Markets HSBC Ali Setiawan mengungkapkan, perekonomian Indonesia diprediksi masih sehat. ”Reshuffle tidak akan berdampak negatif kepada pasar. Yang jelas, kalau soal reshuffle presiden, pasti punya alasan tersendiri,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Malah, tambah dia, jika beberapa nama unggulan muncul, mungkin pengaruhnya akan positif ke market. Namun, dia enggan mengomentari isu tersebut lebih lanjut. Sebab, hal itu sepenuhnya merupakan kewenangan presiden. Selain itu, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih tertekan hingga akhir tahun ini. Berdasar data Bloomberg, kemarin rupiah bertengger di level Rp 13.317 per dolar AS. Angka itu menguat dibanding penutupan perdagangan Senin (30/6) di posisi Rp 13.339 per dolar AS.

Sementara berdasar kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 13.332 per dolar AS atau naik tipis dibanding posisi Senin Rp 13.356 per dolar AS. ”Prediksi semua bank, rupiah bisa sampai Rp 14.000 per dolar AS. Kalau kami, tetap Rp 13.800 per dolar AS. Sejak 2013, saya selalu bilang rupiah itu sulit menguat karena tekanan bukan dari luar, tapi dari dalam,” ujarnya.

Menurut dia, tekanan dari dalam bersumber dari kebutuhan dolar yang selalu tumbuh. Sedangkan pada 2015, rupiah melemah mulai Maret karena tekanan dalam negeri adanya kebutuhan dolar secara musiman dari pembayaran deviden.

Dalam kondisi saat ini, rupiah dinilai semakin sulit bangkit. Terlebih, kondisi Eropa seperti yang dialami Yunani turut memberikan efek negatif terhadap rupiah. ”Sekarang ada tambahan tekanan dari Eropa. Makanya, tekanan dari dalam negeri saja sudah besar. Apalagi kalau ada tekanan lagi dari luar,” kata dia.

Meski demikian, Ali tetap yakin bahwa BI akan terus melakukan antisipasi terhadap pelemahan rupiah. Setidaknya, hingga akhir tahun, rupiah tetap berada di bawah Rp 13.500. ”BI akan intervensi agar rupiah di bawah Rp 13.500. Rupiah juga sejauh ini sudah melemah sampai 7 persen,” tandasnya.

Ali memprediksi, pada akhir tahun, rupiah berada di level Rp 13.800 per dolar AS. Di sisi lain, prediksi dari hampir semua bank di market konsensus melihat rupiah di kisaran Rp 13.800-Rp 14.000 pada akhir tahun.

Sebagaimana diwartakan, Yunani belum bisa mengambil sikap atas penyelesaian utang EUR 1,54 miliar kepada Dana Moneter Internasional (IMF). Utang sebesar itu kemarin jatuh tempo. Sebenarnya, Yunani bisa terlepas dari ancaman bangkrut jika bersedia menerima pinjaman kembali dari kreditor Uni Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB), dan IMF.

Mereka bersedia memberikan bantuan hingga EUR 7,2 miliar untuk menutupi utang tersebut sampai akhir tahun ini. Syaratnya, Yunani diminta memangkas anggaran, terutama dana pensiun, hingga menaikkan pajak. (dee/c22/oki/rie)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *