oleh

Program Demarea Belum Tuntas

[tie_list type=”minus”] Dana Bantuan Baru 50 Persen [/tie_list]

Bangunan pengolahan hasil panen ubi kayu
BUBUN MUNAWAR/CIMAHI EKSPRES

PENGOLAHAN : Bangunan pengolahan hasil panen ubi kayu di RT 04/10 Kampung Pojok Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan.

CIMAHI – Program Pengembangan Demografi Area (Demarea) Ubi Kayu seluas 50 hektar di Kampung Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan digadang-gadang belum tuntas. Pasalnya, selain lahan yang belum tersedia, dana bantuan yang diserahkan pun baru 50 persen diterima empat kelompok tani.

 Menurut informasi yang berhasil dihimpun, dari 50 hektar lahan yang direncanakan, saat ini luas lahan yang dibutuhkan masih belum memadai, karena adanya keterbatasan lahan untuk penanaman ubi kayu yang digarap kelompok tani. Bahkan, area lahan yang digunakan pun saat ini berada di lereng bukit milik perseorangan, Para petani penggarap pun belum maksimal melaksanakan program tersebut, karena selain keterbatasan lahan, juga keterbatasan dana bantuan karena hingga saat ini bantuan yang diterima baru sekitar Rp 150 Juta yang berbentuk bibit dan pupuk.

 Lokasi penanaman ubi kayu tersebut dilakukan di RT 01 dan RT 04 Kampung Pojok RW 10 Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan. ”Setahu saya, program itu digulirkan pada 2013, namun pelaksanananya tidak melibatkan warga kampung adat Cireundeu, kalau tidak salah saat itu dikelola oleh mantan Ketua RW 10 Kelurahan Leuwigajah,” terang salah seorang warga RW 10, kemarin.

Sementara itu, salah seorang Ketua Kelompok tani Mamat Rahmat menyebutkan, ada empat kelompok tani yang dilibatkan dalam program bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut. Informasi yang diperolehnya, program bantuan dianggarkan Rp 300 Juta, tetapi sampai saat ini baru diserahkan satu tahap berupa bibit dan pupuk. ”Katanya sih bantuan untuk program ini sebesar Rp 300 Juta yang akan diserahkan dalam dua tahap, tetapi kami baru menerima satu tahap sebesar Rp 150 juta untuk bibit, pupuk dan sarana pengolahan ubi kayu,” sebutnya.

 Dia melanjutkan, selain karena keterbatasan lahan, tenaga pengelola pun masih jadi kendala. Para pengelola melakasnakan pekerjaannya disaat waktu luang, setelah melaksanakan pekerjaan pokoknya sehari-hari.

 Mamat mengatakan, lokasi penanaman ubi kayu tersebut belum mencapai 50 hektar, paling baru dilakukan untuk 27 hektar saja, yang lokasinya berada di lereng bukit, di tanah milik Alvin dan Jefri. Jarak lahan penanaman ubi kayu ke lokasi penggarap sekitar 1 kilometer. Sehingga, apabila panen cukup merepotkan karena harus diangkut secara manual. ”Saat panen, dari 100 kilogram ubi kayu, setelah diolah menjadi aci, paling bagus 25 kilogram saja,” kata pria yang juga Ketua RT 04/10 Kelurahan Leuwigajah ini.

 Sementara itu, data di Dinas Koperasi UMKM Perindustrian Perdaganggan dan Pertanian kota Cimahi menyebutkan, penanaman pohon ubi kayu seluas 50 hektar tersebut dilakukan dalam tiga tahap. Yaitu, pada bulan Oktober 2013 seluas 15 hektar dan sisanya seluas 35 hektar, penanamannya dilakukan pada bulan Nopember dan Desember 2013. Program pengembangan demografi area ubi kayu ini diharapkan dapat meningkatkan ekonomi, sosial, pendidikan dan pariwisata Kampung Cireundeu sebagai Kampung Wisata Ketahanan Pangan di Kota Cimahi.

 Sebagaimana diketahui, warga Kampung Cireundeu telah bertahun-tahun, turun temurun memanfaatkan ubi kayu atau singkong sebagai makanan pokok sehari-hari. Singkong tersebut diolah menjadi beras singkong atau rasi. Selain dijadikan makanan pokok berupa rasi, singkong juga banyak diolah oleh warga Kota Cimahi menjadi berbagai olahan makanan, seperti awug, peuyeum dan keripik singkong dengan berbagai rasa. (mgc1/asp)

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga