oleh

Mahfuzt Tak Akui Yasmin Anaknya

[dropcap]S[/dropcap]OLOKAN JERUK—Aisyahnaz Yasmin, warga Kampung Babakan Ciparay, Desa Rancakasumba, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, sudah dikembalikan ke Indonesia kemarin (1/4). Yasmin merupakan salah satu WNI yang ditangkap di Turki karena diduga ikut ISIS. Namun, kedatangannya ditolak oleh sang ayah, Mahfuzt Firdaus. Bahkan, dia tidak diakui anak.

Yasmin tiba di Indonesia pukul 10.00 WIB. Dia langsung diantar menuju Rumah Singgah Sosial Provinsi Jawa Barat, Jalan Karang Sari Nomor 54 Caringin, Kota Bandung. Tak hanya Yasmin, warga Jawa Barat lainnya juga ikut dikembalikan. Yakni, Muhamad Ihsan Rais, warga Pangandaran Desa Kertarahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis.

Kedatangan Yasmin ke Indonesia langsung mendapat penolakan dari Mahfuzt. Menurut sang ayah, Yasmin bukan anak kandungnya. Melainkan orang lain yang hanya meminjam identitas. Hal ini diungkapkan oleh Camat Solokan Jeruk Meman Nurjaman.

Meman mengaku, mendampingi Mahfutz yang awalnya mengakui Yasmin sebagai anaknya. Namun, Mahfutz menyatakan bahwa Yasmin bukan anak kandungnya. ’’Berarti Yasmin tidak bisa dikembalikan ke Pak Mahfutz karena bukan keluarga atau orangtua kandungnya,’’ kata Meman kepada Bandung Ekspres kemarin (1/4).

Mahfutz memberikan pernyataan ini di Kantor Kecamatan Solokan Jeruk. Dalam pernyataan tersebut, dia memohon maaf kepada pihak kepolisian bahwa Aisyahnaz Yasmin adalah anak saya dari hasil perkawinan dengan Hartati. ’’Dan yang sebenarnya, Aisyahnaz (Yasmin) bukan anak saya,’’ ujarnya.

Kemudian, dia mengaku keberatan dengan dipulangkannya Yasmin ke rumahnya, karena statusnya bukan anak kandung. Dia juga menyatakan bahwa dirinya tidak terlibat dalam keanggotaan dan tidak pernah mengikuti paham radikal ISIS. ’’Dan untuk selanjutnya, saya beserta keluarga tidak akan pernah mengikuti paham ISIS,” tulis Mahfutz di atas kertas bermaterai yang ditandatanganinya.

Keluarga Mahfutz yang didampingi Muspika Kecamatan Solokan Jeruk berangkat dengan menggunakan dua unit kendaraan roda empat. Mereka menuju dinas sosial provinsi Jawa Barat untuk mempertemukan Mahfutz dengan Yasmin. Mereka juga akan mengambil Identitas Yasmin karena bukan anak kandung Mahfutz.

Mengenai fenomena ISIS ini, Meman menyampaikan imbauannya melalui Kepala Desa dan RW setempat. Supaya masyarakat tetap tenang dan tidak resah. Meski begitu, dia menegaskan masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan tentang paham radikal ISIS ini.

Meman menerangkan, karena pihak orangtua tidak mau menerima Aisyahnaz Yasmin, akhirnya pihak Dinsos Jawa Barat kembali menyerahkan dia ke Kementerian Sosial. Yasmin kembali dibawa ke Jakarta. Sementara Muhamad Ihsan Rais, pulang ke kampung halamannya di Pangandaran. (yul/tam)

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga