oleh

Karya 90-an dalam Bingkai Arsitektur

SUMUR BANDUNG – Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jabar, menyelenggarakan pameran arsitektur bertema ‘Arsitek Generasi Pertama Dalam Profil dan Karya’. Kegiatan tersebut akan digelar selama tiga hari, dengan mengambil lokasi di Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

Acara yang diselenggarakan dari kemarin (19/2) itu, akan menampilkan karya-karya dari para arsitek yang telah berkarya pada era 50-60 an. Berbeda dengan pameran arsitektur yang lain, pameran tersebut bertujuan untuk mengenalkan arsitek pada era 50-60 an, dengan lebih menampilkan profil serta karya arsitek yang masih berbentuk sketsa, dan bukan berbentuk maket.

Dalam pameran itu, pengunjung dapat melihat profil serta karya arsitek generasi pertama seperti Soedjudi, F. Silaban, Ahmad Noe’man, Han Awal, Hoemar Tjokrodiatmo, Moerdjoko, Bianpoen, Mustafa Pamuntjak, Liem Bwan Tjie, dan Zaenudin Kartawira.

Menurut Robby selaku Ketua IAI Jabar, karya-karya arsitek di masa tersebut sangat layak untuk dipamerkan. Karena, karya-karya pada era tersebut masih terpengaruh arsitektur Avangard, yang lahir pada 1800–1900 di Eropa.

Robby juga mengatakan bahwa karya para arsitek generasi pertama kualitasnya jauh lebih baik, bila dibandingkan karya arsitektur masa kini atau yang lebih dikenal dengan nama Arsitektur Kontemporer. ’’Sekarang (arsitektur) kehilangan jati diri, kebablsan, tidak seperti dulu,’’ katanya kepada wartawan.

Salah seorang pengunjung yang datang, mengaku bahwa pameran tersebut lebih terasa edukatif. ’’Biasanya maket doang, ini lebih edukatif karena ada tulisan,’’ Ujar Afan, mahasiswa jurusan arsitektur kepada Bandung Ekspres saat sedang melihat-lihat di lokasi.

Selain itu, pada 21 Februari nanti, pameran tersebut juga akan mengadakan talkshow dengan mengundang pembicara Panogu Silaban, Fauzan Noe’man, dan Gregorius Antar sebagai pelaku sejarah. Pada tanggal yang sama juga akan diadakan pemutaran film di Taman Film dibawah Jembatan Cikapayang yang tetap mengusung konsep arsitek masa 80-90 an. (mg7/far)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 komentar

  1. ’’Sekarang (arsitektur) kehilangan jati diri, kebablsan, tidak seperti dulu,’’….

    Menurut saya, arsitektur sekarang terjadi karena adaptasi terhadap selera klien juga, yang kadang sudah melek referensi dari model arsitektur di belahan dunia lain. Nah apakah referensi yang mereka inginkan ini sesuai dengan jiwa arsitektur Indonesia, kadang sesuai tapi kadang juga tidak.

Baca Juga