Umat Jangan Saling Mencela

Pesan Presiden di Hari Santri Nasional

25
kirab-hari-santri-nasional
AYO MONDOK: Para santri saat mengkampanyekan Ayo Mondok pada Kirab Santri dalam peringatan Hari Santri Nasional ke-3. Di Jabar Puncak HSN diselenggarakan semalam.

BANDUNG – Presiden RI, Joko Widodo menghadiri peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Bandung, Jawa Barat, semalam (21/10).

Dihadapan puluhan ribu santri yang memadati Lapang Gasibu, Presiden yang karib disapa Jokowi itu mengimbau agar para santri tidak mudah terhasut dengan informasi bohong, termasuk ikut menyebarkan. Apalagi saat ini diera digital, hoax berseliweran di media sosial apalagi jelang tahun politik.

HUMAS JABAR UNTUK JABAR EKSPRES

PANJATKAN DOA: Presiden RI Joko Widodo didampingi Wagub Jabar
Uu Ruzhanul Ulum di Puncak HSN ke-3 di Lapang Gasibu, kemarin

ads

”Saya titip, jangan mudah percaya pada hoaks berita yang ada di media sosial. Kalau sudah menjelang tahun politik banyak sekali berita bohong, fitnah di medsos. Tolong disaring,” kata Jokowi saat memberikan sambutan, kemarin.

Lebih lanjut dia menyebutkan, dalam ajaran Islam tak pernah diperbolehkan melakukan fitnah, mencela, menjelekan. Namun, fitnah saling mencela, menjelakan muncul menjelang pemilihan bupati, pemilihan wali kota, pemilihan gubernur, dan pemilihan presiden.

Jokowi pun mempersilakan kepada para santri untuk berbeda pilihan dalam pesta demokrasi. Ia mempersilakan para santri memilih pilihan a b, c, d, karena itu pilihan politik.

Namun, dia mengatakan, jangan sampai sesama muslim saling memfitnah dan sesama bangsa dan tanah air saling menjelekan. Jokowi meminta semua pihak menjaga persatuan di tengah panasnya pesta demokrasi.

Menurut Jokowi, aset terbesar kita adalah persatuan dan kerukunan. Jadi, semua santri harus menjaga ukhuwah islamiah wathoniah. ”Jangan sampai antarumat saling mencela, sesama muslim saling menjelekan, antardaerah, antarsuku saling memfitnah,” ujarnya.

Jokowi membuka sambutannya dengan pertanyaan kepada ribuan masyarakat yang memadati Lapangan Gasibu. ”Siapa kita? Ayo mondok!” katanya disambut dengan pekikan jawaban santri.

Menurut Jokowi, tiga tahun yang lalu ia menandatangani sebuah keputusan presiden tentang hari santri. Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa terimakasih negara kepada alim ulama serta semua unsur yang ada di pesantren.

”Sejarah telah mencatat peran besar peran ulama dan santri. Di masa perjuangan kemerdekaan, dalam menjaga pancasila, NKRI dan bhineka tunggal ika, santri dan alim ulama selalu memandu ke jalan kebaikan,” kata Jokowi.

Menurutnya, menjadi santri adalah menjadi pribadi yang religius dan nasionalis. Untuk itu, Jokowi berharap semangat itu terus dijaga, terutama di masa pesta demokrasi.

Jokowi mengingatkan kepada semua bahwa Indonesia adalah rumah yang perlu terus dirawat dan dijaga oleh kita semua. ”Siapa yang menjaga? Salah satunya para santri,” katanya.

Jokowi menegaskan, Indonesia adalah negara yang besar. Yang di dalamnya banyak perbedaan, seperti suku, agama, adat, bahasa dan tradisi. Perbedaan ini merupakan anugerah tuhan yang membuat Indonesia kaya dan saling melengkapi.

”Karena itu, jangan sampai ada hal kecil seperti momen pesta demokrasi membuat persatuan terpecah belah,” katanya.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum menyebutkan Kemerdekaan bangsa Indonesia tak bisa lepas dari peran dan perjuangan para Kyai. Mereka sangat berjasa dalam membangun karakter bangsa.

”Apalagi para kyai, itu berjasa terhadap bangsa dan negara dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya,” kata Uu.

Menurutnya, pesan yang disampaikan seorang pendiri bangsa WR Supratman dengan kalimat ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya’, itu menunjukkan bahwa sebelum membangun badan, maka harus diawali dengan pembangunan jiwa.

”Jadi sebelum membangun badan, bangun dulu jiwanya. Dan yang membangun jiwa adalah para Kyai,” tutur Uu.

Di sisi lain, kata dia, kepedulian pemerintah terhadap jasa para Kyai kurang. Seakan jasa-jasa mereka dilupakan dan sirna di mata masyarakat. Pemerintah lebih memfokuskan diri membangun fisik, infrastruktur dan sarana lainnya. Sementara, terhadap peningkatan kualitas jiwa (keimanan dan ketakwaan) kurang dianggap penting.

”Kenapa kalau jembatan dibangun, yang lain dibangun, sementara untuk peningkatan keimanan dan ketakwaan tidak ada kode rekening,” kata Uu.

Momentum HSN, hendaknya dijadikan langkah awal untuk memperbaiki arah pembangunan bangsa. Tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga diimbangi dengan pembangunan karakter bangsa.

”Oleh karena itu saya berharap, dimasa yang akan datang kami perhatikan. Dan yang buat saya sakit hati, pesantren disebut pendidikan non formal. Itu yang membuat saya sakit. Kenapa SD, SMP yang disebut pendidikan formal, sementara pesantren tidak? padahal pesantren itu memiliki silabus, memiliki kurikulum, memiliki cara dikdaktik cara mengajar. Pelajarannya juga jelas, dari tingkatan-tingkatan. Ada pelajaran ibtida’, ada tsanawi, ada ma’had ali, ada tes setiap enam bulan dan yang lainnya. Tapi kenapa disebut pendidikan non formal?,” pungkasnya. (rep/yud/rmol/ign)

~ads~
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.